Rabu, 03 April 2024

Syekh Mahfudz at-Tarmasi

 


A. 
Biografi Syekh Mahfudz at-Tarmasi

Syekh Mahfudz at-Tarmasi dilahirkan pada tanggal 12 Jumadil Ula (25 Rajab) tahun 1258 H/ 31 Agustus 1842 M, di Desa Tremas Kecamatan Arjosari, Pacitan, Jawa Timur (yang kala itu Desa Tremas masih termasuk wilayah Karasidenan Solo Jawa Tengah). Beliau lahir dengan diberi nama lengkap Muhammad Mahfudz bin ‘Abdillah bin ‘Abdul Manan bin Dipomenggolo at-Tarmasi al-Jawi yang kerap disapa dengan panggilan Syekh Mahfudz at-Tarmasi. At-Tarmasi merupakan penisbatan dari asal kelahirannya yaitu Desa Tremas Arjosari Pacitan. Dalam akhir hayatnya, beliau wafat di Mekah pada tanggal 1 Rajab pada malam Senin tahun 1338 H / 20 Mei 1920 M saat usia 53 tahun dan dimakamkan di Maqbaroh al-Ma’la.

Pada saat Syekh Mahfudz dilahirkan, ayahnya sedang menunaikan ibadah haji dan sekaligus menimba ilmu di Mekah. Beliau berasal dari keluarga keturunan Pondok Pesantren Tremas Pacitan yang didirikan oleh kakeknya, yakni Kiai Abdul Manan. Pada tahun 1872 M/1291 H., Syekh Mahfudz yang baru berumur enam tahun, oleh ayahnya dibawa ke Mekah untuk bermukim di sana. Selama kurang lebih enam tahun tinggal di Mekah, tentunya memberikan pengaruh dalam membentuk perjalanan intelektualnya. Masa kecil Syekh Mahfudz dibesarkan di lingkungan Pesantren Tremas yang diasuh oleh ayahnya, yaitu Kiai Abdullah. Tradisi pesantren yang setiap harinya menghadirkan nuansa keilmuan, tentunya sangat mempengaruhi kepribadiannya akan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama.

Melihat kemampuan yang dimiliki Syekh Mahfudz, ayahnya menitipkan beliau di pesantren KH. Shaleh Darat (1820-1903 M) di Semarang. Pesantren Darat ini termasuk kategori pesantren yang besar yang memiliki ratusan santri, bahkan beberapa tokoh ternama pernah nyantri di pesantren tersebut, di antaranya seperti: KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, K. Amir Brebes, K. Idris Solo, KH. Moenawir Krapyak, KH. Dalhar Watucongol, KH. Asnawi Kudus, KH. Dimyati dan KH. Dahlan.

Di Pesantren KH. Shaleh Darat inilah Syekh Mahfudz mempelajari beberapa kitab, di antaranya adalah: Tafsir Jalalain, Syarh Syarqawi ‘ala al-Hikam, Wasilah al-Tullab dan Syarh al-Maridini li al-Falaq. Setelah nyantri di Pesantren Darat, beliau merasa rindu akan nuansa di Mekkah dan ingin kembali ke sana. Akhirnya pada tahun 1308 H, Syekh Mahfudz berangkat ke Mekah untuk yang kedua kalinya. Suasana religius yang pernah dirasakan pada masa kecilnya, memberikan energi dan semangat baru untuk mendalami ilmu agama.

Selama tinggal di Mekah, Syekh Mahfudz banyak mengunjungi berbagai tempat pengajian guna mendalami ilmu agama. Di Mekah, beliau berguru dengan Syekh Muhammad Syatha al-Makki, seorang guru yang cukup ternama kala itu, bahkan beliau diangkat menjadi bagian dari keluarga gurunya sekaligus diberi kesempatan untuk mengajar di Masjidil Haram. Padahal pada masa itu, tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapat ijazah dan mengajar di sana. Menurut Syekh Yasin al-Fadani, Syekh Mahfudz mendapat gelar ‘Allamah (sangat alim), al-Muhaddits (ahli hadis), al-Musnid (mata rantai sanad hadis), al-Faqih (ahli Fiqh), al-Ushuli (ahli Ushul), dan al-Muqri’ (ahli Qira’at). Beliau termasuk salah satu ulama’ nusantara yang telah menorehkan karya-karyanya dalam bahasa Arab.

Sebagai seorang muhaddits, Syekh Mahfudz memainkan peran yang sangat besar dalam jaringan keilmuan ulama di Nusantara. Banyak ulama Indonesia pernah menimba ilmu darinya seperti: Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri, Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri, Syekh Ihsan al-Jampasi, KH. Makshum Lasem, Umar bin Hamdan al-Mahrasi dan masih banyak lagi ulama’ yang lainnya.

B.    Karya-karya Syekh Mahfudz At-Tarmasi

Lantaran keilmuannya yang diakui oleh ulama-ulama di Tanah Arab, Syekh Mahfudz menjadi guru besar ilmu-ilmu keislaman di Mekah. Di samping itu, beliau menulis banyak karya dalam bahasa Arab di berbagai bidang keilmuan. Di bidang hukum Islam, Syekh Mahfudz menulis kitab Hasyiyah Attarmasi setebal tujuh jilid. Hingga kini, kitab tersebut dijadikan rujukan di banyak institusi keagamaan Islam di berbagai belahan dunia. Kemudian pada bidang ilmu periwayatan hadits, Syekh Mahfudz menulis kitab Manhaj Dzawin Nadzar Syarah Mandzumah Ilmu Al-Atsar yang sampai saat ini tidak henti-hentinya dicetak dan dikaji di beberapa negara. Sementara di bidang tafsir Al-Qur’an, Syekh Mahfudz menulis satu karya, yaitu Fathul Khabir Syarah Miftahut Tafsir

Selain dikenal sebagai pakar hukum Islam, ilmu hadits, dan ushul fikih, Syekh Mahfudz dikenal sebagai pakar ilmu Qira'at Al-Qur’an. Beliau menulis kitab Ghunyatut Thalabah Syarah ala Mandzumat at-Thayyibah fi Qiraatil Asyrah. Sampai sekarang, kitab tersebut dijadikan sebagai kitab acuan wajib kuliah di Fakultas Al-Qur’an Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. 

C.    Kontribusi Syekh Mahfudz At-Tarmasi dalam Mengembangkan Hadis di Indonesia

Syekh Mahfudz at-Tarmasi dikenal sebagai salah satu ulama’ ahli hadis, baik di kalangan nusantara maupun kancah penjuru dunia. Kegemilangannya dapat dilihat dari karya-karya yang berhasil dibukukan. Salah satu karyanya di bidang hadis dan ulumul hadis disusun dengan ciri khas dan keunikannya tersendiri, di mana kitab tersebut disusun dengan menyertakan sanad beliau dari bidang ilmu yang akan ditulisnya, bahkan saat menyusun kitab al-Minhah al-Khairiyah, beliau mengutamakan hadis-hadis dengan sanad yang tinggi.

Atas kegigihan dan keuletannya, beliau diakui sebagai seorang isnad (mata rantai) yang sah pada urutan ke 23 dalam tranmisi intelektual pengajaran Shahih Bukhari. Ijazah ini berasal dari Imam Bukhari sendiri lalu diserahkan secara barantai melalui 23 generasi ulama yang telah menguasai Shahih Bukhari. Sebagaimana pernyataan Syekh Mahfudz sendiri, bahwa kemurnian isnad adalah hal yang sangat menyakinkan bagi mereka yang menguasai ilmu pengetahuan.

Menurut Syekh Mahfudz, ilmu hadis merupakan sentral atau tempat kembalinya segala ilmu pengetahuan sehingga mutlak dibutuhkan. Misalnya ilmu fikih dalam menentukan suatu hukum akan merujuk kepada hadis Nabi. Bahkan al-Qur’an juga membutuhkan penjelasan dari Hadis, oleh karena itu sangat pentingnya mengetahui sanad hadis. Kemudian beliau mengutip ungkapan Ibnu Sirin bahwa isnad adalah agama. "Barang siapa yang tidak mengetahui isnad, berarti ia tidak mengetahui agama. Dengan mengetahui isnad, maka tidak akan terjebak dengan hadis dha’if (lemah) dan bahkan maudhu’ (palsu)." Bahkan Syekh Mahfudz mengingatkan akan bahayanya menyampaikan hadis yang tidak jelas sumbernya atau bahkan palsu dengan merujuk pada sabda Nabi saw. "Barang siapa yang berdusta dengan dan atau atas namaku, maka tempatnya yang paling layak adalah di Neraka."

Salah satu dari kesekian banyak silsilah isnad at-Tarmasi dalam bidang hadis adalah isnadnya hingga Imam Bukhari sebagaimana yang beliau tulis dalam kitab Kifayah al-Mustafid, isnad tersebut adalah sebagai berikut; Syekh Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi dari Syekh Muhammad Shatha al-Makky dari Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan dari Syekh Utsman bin Hasan al-Dimyati dari Syekh Muhammad bin Ali bin Manshur al-Syanwani dari Syekh Aba al-Azaim Isa bin Ahmad al-Barawi dan Syekh Ahmad al-Dafri dari Syekh Salim bin Abdullah Al-Basri dari Syekh Abdullah bin Salim al-Basri dari Syekh Muhammad bin Ala al-din al-Babili dari Syekh Salim Muhammad bin al-Sanhuri dari Syekh al-Najm Muhammad bin Ahmad al-Ghaiti dari Syekh Islam Abi Yahya Zakariya bin al-Anshri dari Syekh al-Hafid al-Syihabu al-Din Ahmad bin Hajar al-Asqalani dari Syekh Ibrahim bin Ahmad al-Tanuhi dari Syekh Abi al-Abbas Ahmad bin Thalib al-Hajar dari Syekh al-Husain bin al-Mubarik al-Zubaidi al-Hanbali dari Syekh Abu al-Waqt Abdu al-Awwal bin Isa bin Syuaib al-Sijziy al-Harawi dari Syekh Abi al-Hasan Abdu al-Rahman bin Mudhaffar bin Dawud al-Dawudi dari Syekh Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad al-Sarakhsi dari Syekh Abi Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Firabri dari Syekh al-Imam al-Hafid Al-Hujja Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Bukhari.

Syekh  Mahfudz merupakan ulama Nusantara pertama yang mendunia sekaligus dikenal sebagai pembangkit ilmu dirayah hadis. Beliau mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam mengembangkan kajian hadis di Indonesia. Dalam menuangkan karya-karyanya, beliau sangat hati-hati. Setiap kali mengawali menulis karya, senantiasa membaca Basmalah dan diakhiri dengan Wallahu Ta’ala A’lam serta bermunajat kepada Allah.

     Baca juga 👉 https://bit.ly/BiografiSyekhYasinAlfadani
     ____________________________
     Referensi :
     [1] Laili Noor Azizah dan Istianah, "Kontribusi Muhammad Mahfudz At-Tarmasi Dalam                         Mengembangkan Hadis Di Indonesia", Jurnal Holistic, Vol. 8, No. 1, (2022).

 

Syekh Nawawi Al-Bantani


A.    Biografi Syekh Nawawi Al Bantani

Al-Imam Al-'Allamah Asy-Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani at-Tanari asy-Syafi'i atau lebih dikenal Syekh Nawawi al-Bantani, lahir sekitar tahun 1230 Hijriyah atau 1813 Masehi adalah seorang ulama besar asal Indonesia bertaraf Internasional yang menjadi Imam Masjidil Haram di Saudi Arabia. Beliau bergelar al-Bantani karena berasal dari Banten, Indonesia. Beliau adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab.

Karena kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani kemudian dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang Mumpuni ilmunya), A'yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (Tokoh Ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam 'Ulama Dua Kota Suci).

Syekh Nawawi lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa (dulu, sekarang Kecamatan Tanara), Kabupaten Serang, Banten pada tahun 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi, dengan nama Muhammad Nawawi bin 'Umar bin 'Arabi al-Bantani. Beliau merupakan putra sulung dari tujuh bersaudara. Generasi ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Nasabnya melalui jalur Kesultanan Banten ini sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ayah Syekh Nawawi merupakan seorang Ulama lokal di Banten bernama Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, sedangkan ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga. Syekh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Serang. Dikaruniai tiga orang anak, yaitu Nafisah, Maryam, dan Rubi'ah. Sang istri wafat mendahului beliau.

B.     Riwayat Pendidikan Syekh Nawawi Al Bantani

Sejak berusia lima tahun, Syekh Nawawi sudah mulai belajar ilmu agama Islam langsung dari ayahnya. Bersama saudara-saudara kandungnya, Syekh Nawawi mempelajari tentang pengetahuan dasar bahasa Arab, fiqih, tauhid, al-Quran dan tafsir. Pada usia delapan tahun bersama kedua adiknya, Tamim dan Ahmad, Syekh Nawawi berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Kemudian melanjutkan kegiatan menimba ilmu kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta.

Di usianya yang belum genap lima belas tahun, Syekh Nawawi telah mengajar banyak orang, sampai kemudian ia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Baru setelah usianya mencapai lima belas tahun, Syekh Nawawi menunaikan haji dan kemudian berguru kepada sejumlah ulama masyhur di Mekah saat itu.

C.    Peranan dan Perjuangan Syekh Nawawi Al Bantani

  • Nasionalisme dan Pengabdian di Masjidil Haram

Setelah tiga tahun bermukim di Mekah, Syekh Nawawi pulang ke Banten sekitar tahun 1828 Masehi. Sampai di tanah air, beliau menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat. Tak ayal, gelora jihad pun berkobar. Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, Syekh Nawawi kemudian berdakwah keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah sampai pemerintah Belanda membatasi garak-geriknya, seperti dilarang berkhutbah di masjid-masjid.[4] Bahkan belakangan beliau dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825 - 1830 Masehi), hingga akhirnya beliau kembali ke Mekah setelah ada tekanan pengusiran dari Belanda, tepat ketika puncak terjadinya Perlawanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830 Masehi. Begitu sampai di Mekah, beliau segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya.

Syekh Nawawi mulai masyhur ketika menetap di Syi'ib 'Ali, Mekah. Beliau mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tetapi semakin lama jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Hingga jadilah Syekh Nawawi al-Bantani sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf.

Nama Syekh Nawawi al-Bantani semakin masyhur ketika ditunjuk sebagai Imam Masjidil Haram, menggantikan Syekh Achmad Khotib Al-Syambasi atau Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Tidak hanya di kota Mekah dan Madinah saja beliau dikenal, bahkan di negeri Suriah, Mesir, Turki, hingga Hindustan.

  • Pemikiran Penting

Syekh Nawawi memegang peran sentral di tengah ulama al-Jawi. Beliau menginspirasi komunitas al-Jawi untuk lebih terlibat dalam studi Islam secara serius, juga berperan dalam mendidik sejumlah ulama pesantren terkemuka. Bagi Syekh Nawawi, masyarakat Islam di Indonesia harus dibebaskan dari belenggu Kolonialisme. Dengan mencapai kemerdekaan, ajaran-ajaran Islam akan dengan mudah dilaksanakan di Nusantara. Pemikiran ini mendorong Syekh Nawawi untuk selalu mengikuti perkembangan dan perjuangan di tanah air dari para murid yang berasal dari Indonesia serta menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan masyarakat Indonesia.

Selain pelajaran agama, Syekh Nawawi juga mengajarkan makna kemerdekaan, anti Kolonialisme dan Imperialisme dengan cara yang halus. Mencetak kader patriotik yang di kemudian hari mampu menegakkan kebenaran. Perjuangan yang dilakukan Syekh Nawawi memang tidak dalam bentuk revolusi fisik, namun lewat pendidikan dalam menumbuhkan semangat kebangkitan dan jiwa nasionalisme.

Di samping itu, upaya pembinaan yang dilakukan Syekh Nawawi terhadap komunitas al-Jawi di Mekah juga menjadi perhatian serius dari pemerintahan Belanda di Indonesia. Produktivitas komunitas al-Jawi untuk menghasilkan alumni-alumni yang memiliki integritas keilmuan agama dan jiwa nasionalisme, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. Untuk mengantisipasi ruang gerak komunitas al-Jawi ini maka pemerintah Belanda mengutus penasihat pemerintah, Christian Snouck Hurgronje untuk berkunjung ke Mekah pada tahun 1884 – 1885 Masehi. Kedatangan Snouck ini bertujuan untuk meneliti lebih lanjut dan melihat secara langsung berbagai hal yang telah dilakukan oleh ulama Indonesia yang tergabung dalam komunitas al-Jawi.

D.    Karya-karya Syekh Nawawi Al Bantani

Ulama asal Mesir, Syekh 'Umar 'Abdul Jabbar dalam kitabnya "al-Durus min Madhi al-Ta'lim wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Haram” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syekh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih yang meliputi berbagai disiplin ilmu (Tafsir, Hadis, Aqidah, Fiqih, Tasawuf). Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian ada yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

E.     Wafatnya Syekh Nawawi Al Bantani

Syekh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriyah atau 1897 Masehi. Makamnya terletak di Jannatul Mu'alla, Mekah. Makamnya bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.[8] Diketahui bahwa makan Syekh Nawawi sempat akan dipindahkan, namun karena jasad beliau masih utuh meski sudah bertahun-tahun, akhirnya makam beliau ditetapkan sampai sekarang. Demikian itu adalah salah satu karomah atau keistimewaan yang diberikan Allah kepada Syekh Nawawi. Selain karomah tersebut, diketahui juga beberapa karomah lainnya seperti jari telunjuk bersinar sebagai penerang, salat di dalam mulut ular besar, dan mampu menghasilkan karya-karya yang fenomenal dan bermanfaat hingga sekarang.

Meski wafat di Jazirah Arab, namun hingga kini setiap tahunnya selalu diadakan haul atau peringatan wafatnya Syekh Nawawi al-Bantani di tanah air, tepatnya di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara di Tanara, Serang, asuhan K.H. Ma'ruf Amin. Haul Syekh Nawawi selalu ramai dihadiri para santri Nusantara, bahkan mancanegara.


____________________________
Referensi : 
[1] "Kisah Wali". Majalah Alkisah. (Jakarta: Alkisah. 15 Februari 2004).

[2] Mahbib (3 Februari 2017). "Syekh Nawawi Banten dan Beberapa Pemikiran Pentingnya". nu.or.id.

[3] Huda, Nurul. "Sekilas Tentang: Kiai Muhammad Nawawi al-Bantani". Majalah Alkisah. (Jakarta: Alkisah 14 September 2003)

[4] Salmah; Rimma; Vidia (10 Juli 2007). "Syekh Nawawi al-Bantani". Perjalanan 3 Wanita. Trans TV.

[5] Maharani, Ardini (2 Desember 2015). "Imam Besar Masjidil Haram dari Banten, Keturunan Cucu Rasulullah". bintang.com.

[6] Solahudin, M., Ulama Internasional dari Pesantren (Kediri: Nous Pustaka Utama, 2012).

[7]Abdullah (11 Januari 2016). "Kiai Nawawi kisahkan Karomah Syekh Nawawi". nu.or.id.

[8] Sofiyan (18 September 2012). "Wisata Ziarah Mengenal dan Mengenang Syekh Nawawi di Tanara". bantenraya.com.

[9] Joewono, Beny N (23 September 2011). "Presiden Hadiri Haul Syeikh Nawawi". nasional.kompas.com.



KH. Hasyim Asy'ari

 


A.    Latar Historis KH. M. Hasyim Asy’ari

Ulama yang dikenal sebagai ulama modernis ahli hadis, juga sebagai pribadi sederhana ini bernama Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ’Abd al-Wahid ibn ’Abd al-Halim, selanjutnya lebih dikenal dengan KH. Hasyim Asy’ari. Beliau dilahirkan di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, pada 24 Zulqa'dah 1287 H bertepatan tanggal 14 Februari 1871 M. Kiai Asy’ari ayahnya KH. Hasyim adalah pendiri pesantren Keras, 8 KM dari Jombang. Sementara kakeknya Kiai Usman, adalah Kiai terkenal dan pendiri Pesantren Gedang di Jombang yang didirikan tahun 1850-an. Sedangkan dari pihak ibu, masih keturunan Raja Brawijaya, seorang raja di Pulau Jawa. Dipercaya bahwa beliau adalah keturunan Raja Muslim Jawa, Jaka Tingkir dan Raja Hindu Majapahit, Barawijaya VI. Jadi, KH. Hasyim Asy’ari juga dipercaya merupakan keturunan bangsawan.

KH. Hasyim Asy’ari dibesarkan di tengah tengah keluarga yang sangat memegang teguh ajaran Islam dengan tradisi pesantren yang sangat kuat. Untuk memudahkan memahami perjalanan hidup beliau, penulis akan memetakannya ke dalam beberapa periode sebagai berikut;

           Periode Pertama, masa anak-anak sampai remaja. Pada masa ini, KH. Hasyim Asy’ari dididik dan dibesarkan di bawah bimbingan orang tua dan kakeknya di pesantren Gedang. Beliau mendapat pelajaran dasar-dasar tauhid, fikih, tafsir dan hadis. Ketika berusia lima tahun, ayahnya mendirikan pesantren Keras, sebelah selatan kota Jombang. Selama di pesantren ini, KH. Hasyim Asy’ari sudah terlihat kecerdasannya dengan menjadi guru pengganti (badal), mengajar murid-murid yang tidak jarang lebih tua dari beliau sendiri. Pendidikan beliau tidak hanya di pesantren Gedang. Beliau pernah mengembara ke beberapa pesantren di Jawa dan Madura, seperti Pesantren Wono Koyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggalis dan Kademangan (Bangkalan, Madura) dan pesantren lainnya.

Pada masa mudanya KH. Hasyim Asy’ari, ada dua sistem pendidikan bagi penduduk pribumi Indonesia. Pertama, sistem pendidikan pesantren, bagi para santri muslim dengan fokus pengajaran ilmu agama. Kedua, sistem pendidikan barat pemerintah kolonial Belanda, dengan tujuan menyiapkan para siswa untuk menempati posisi-posisi administrasi pemerintah baik tingkat rendah maupun tingkat menengah. Namun sekolah ini sangat terbatas, sehingga mayoritas penduduk pribumi yang sebagian besar muslim tidak mendapat kesempatan.

Setelah mendapatkan pendidikan di pesantren di bawah bimbingan orang tua dan kakeknya sampai remaja, KH. Hasyim Asy’ari juga mengembara ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura, mengingat ketika itu sudah lazim para santri mengikuti pelajaran di berbagai pesantren karena masing-masing pesantren mempunyai spesialisasi dalam pengajaran ilmu agama seperti yang juga dilakukan oleh KH. Wahab Hasbullah. Pada tahun 1893 M. Hasyim Asy’ari kemudian melanjutkan pendidikan di Mekah selama 7 tahun di bawah bimbingan Syekh Mahfudh dari Termas, ulama Indonesia yang pertama mengajar Shahih Bukhari di Mekah. Syekh Mahfudh adalah seorang yang ahli dalam ilmu hadis, darinya KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan ijazah mengajar Shahih Bukhari yang merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima hadis (isnad) dari 23 generasi penerima karya ini. Syekh Mahfudh juga membuat KH. Hasyim Asy’ari sangat tertarik dengan ilmu ini, sehingga setelah kembali ke Indonesia, beliau mendirikan pesantren yang terkenal dalam pengajaran hadis. KH. Hasyim Asy’ari juga belajar tarekat Qadariyah dan Naqsabandiyah yang diterima dari Syekh Mahfudh dan Nawawi.

KH. Hasyim Asy’ari juga belajar fikih mazhab Syafi’i di bawah bimbingan Ahmad Khatib yang juga ahli dalam bidang astronomi dan ilmu falak. Selain itu, pada akhir abad ke-19 M., perkembangan Islam di Timur Tengah menimbulkan adanya gerakan menuju kebangkitan dunia Islam di bawah komando Jamaluddin al-Afgani dan Mohammad Abduh yang bertujuan mewujudkan semangat pembaharuan, menanamkan jiwa anti imperialisme dan kolonialisme serta reformasi menentang kezaliman penjajah serta mengharapkan kebebasan Islam di masa yang akan datang.

Tepat di Hijaz, KH. Hasyim Asy’ari juga mendapat pengaruh dan perkembangan politik lokal seperti sentimen anti-kolonial, nasionalisme Arab dan pan-Islamisme sebagai reaksi terhadap invasi Barat pada abad ke-19 oleh Kristen Eropa. Anjuran pan-Islamisme adalah agar umat Islam bersatu dalam menghadapi ekspansi Eropa. Seruan persatuan ini nampaknya sangat berpengaruh pada KH. Hasyim Asy’ari dan mengilhaminya untuk mewujudkan persatuan umat Islam dengan membebaskan tanah air dari kolonialisme.

Setelah cukup lama menuntut ilmu di Mekkah, KH. Hasyim Asy’ari memutuskan kembali ke tanah air. Kemudian beliau mendirikan pesantren Tebuireng pada tahun 1899 M. Tidak hanya melalui pendidikan dan pesantren, KH. Hasyim Asy’ari juga mendirikan organisasi masa (Ormas) Islam yang dikenal dengan Nahdhatul Ulama (NU), didirikan pada tanggal 31 Januari 1926. Beliau juga berjasa dalam menyatukan organisasi Islam yang sebelumnya berseteru ke dalam satu wadah organisasi. Beliau menyerukan persatuan dan kesatuan umat Islam sebagai cara menghadapi taktik pecah belah oleh Belanda.

Periode Kedua, masa berkeluarga sampai akhir hayat. Semasa hidup, KH. Hasyim Asy’ari tercatat menikah sebanyak 7 kali. Memasuki usia 21 tahun beliau menikah dengan putri Kiai Ya’kub yang bernama Nafisah dari Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo). Kemudian melaksanakan ibadah haji bersama istri dan mertuanya. Tujuh bulan di Mekah, istri beliau meninggal. Setahun setelahnya, beliau memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Di Indonesia, beliau menikah lagi dengan Khadijah dari Karangkates (Kediri). Pernikahan kedua ini tidak berlangsung lama, karena istrinya meninggal dunia. Selanjutnya ia menikah dengan Nafiqah dari Sewulan (Madiun). Dari hasil perkawinannya dengan Nafiqah, beliau dikaruniai sepuluh orang anak, yaitu: Hannah, Khoiriyah, Asiyah, Azzah, Abdul Wahid (yang lebih dikenal dengan Wahid Hasyim), Abdul Hakim (Abdul Kholik), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh, dan Muhammad Yusuf. Perkawinan KH. Hasyim Asy’ari juga berhenti di tengah jalan, karena Nafiqah meninggal dunia pada tahun 1920 M. Sepeninggal Nafiqah, beliau menikah lagi dengan Masrurah dari Kapurejo, Pagu (Kediri). Dari hasil perkawinan keempatnya ini, beliau memiliki empat orang anak: Abdul Qadir, Fatimah, Khodijah, dan Muhammad Ya’kub. Perkawinan dengan Nafiqah ini merupakan yang terakhir bagi beliau hingga akhir hayatnya.

Menurut berbagai sumber, KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia pada tanggal 27 Juli 1947 akibat penyakit darah tinggi atau stroke setelah menerima kabar tentang kondisi Republik Indonesia saat itu. Sebelumnya, pada tanggal 2 Juli 1947, datang utusan Bung Tomo dan Jenderal Sudirman untuk menyampaikan kabar perihal agresi Militer Belanda I. Dari keduanya, diperoleh kabar bahwa pasukan Belanda yang membonceng Sekutu pimpinan Jenderal SH. Poor telah berhasil mengalahkan tentara Republik Indonesia dan menguasai wilayah Singosari (Malang). Tidak hanya itu, pasukan Belanda juga menjadikan warga sipil sebagai korban, sehingga banyak di antara mereka meninggal dunia.

B.    Karya-Karya KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy’ari termasuk seorang penulis yang produktif. Sebagian besar karyanya menggunakab Bahasa Arab, seperti tasawuf, fikih dan hadis. Sampai sekarang sebagian kitab ini masih dipelajari di berbagai pesantren. Adapun karya-karya beliau yang cukup terkenal dan berkaitan dengan kajian ini antara lain:

1.     Adab al-Ālīm wa al-Muta’allim, yaitu kitab yang memuat tentang akhlak guru dan murid

2.   Risālah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah fi Ḥadīth al Mawta wa Ashrat al-Sa’ah wa Bayan Mafhūm al-Sunnah wa al-Bid’ah, (Risalah ahlussunnah wal jama’ah mengenai hadis-hadis tentang kematian dan tanda-tanda hari kiamat serta penjelasan mengenai Sunnah dan bid’ah)

3.  Ziyadah al-Ta’liqat ‘ala Manzumāt al-Shaikh ‘Abd Allah Ibn Yasin al-Fasuruani, (catatan tambahan terkait syair Syekh ‘Abdullah Ibn Yasin Pasuruan, berisi bantahan KH. Hasyim Asy’ari terhadap kritikan Syekh ‘Abdullah Ibn Yasin Pasuruan terhadap Nahdlatul Ulama).

4.  Al-Tanbiḥat al-Wajibah, membahas nasihat penting bagi orang yang merayakan kelahiran Nabi Muhammad dengan menjalankan hal-hal yang dilarang agama.

5.     Al-Risalah fi al-Aqā’id, (risalah tentang keimanan).

6.     Al-Ḥadīth al-Maut wa Ashrah al-Sa’ah. Hadis mengenai kematian dan kiamat.

Ada banyak lagi karya-karya yang lainnya. Selain itu, pidato-pidato KH. Hasyim Asy’ari diterbitkan dalam berbagai surat kabar seperti Soeara Nahdhatul Ulama, Soeara MIAI; dan Soeara Moeslimin Indonesia yang diterbitkan Masyumi, serta masih banyak lagi karya beliau yang sampai saat ini masih dipelajari di berbagai pesantren di Indonesia.


Baca juga 👉 http://bit.ly/BiografiKHahmaddahlan
____________________________
Referensi :
[1] Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005).

[2] Latiful Khuluq, Kebangunan Ulama Biografi KH. Hasyim Asy’ari (Yogyakarta: LKiS, 2000).

[3] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 1994).

[4] Badiatul Roziqin, 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia (Yogyakarta: e-Nusantara, 2009).

[5] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 2003).

[6] Samsul Nizar dan Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Pustaka, 2005).


Sabtu, 30 Maret 2024

KH. Ali Ma'sum Krapyak

 

KH. Ali Ma’sum dilahirkan pada tanggal 2 Maret  1915 di desa Soditan, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. KH. Ali Ma’sum merupakan putra pertama dari KH. Ma’sum bin KH. Ahmad Abdul Karim dengan Ny. Hj. Nuriyah binti KH. Muhammad Zein Lasem. Ayahnya atau yang lebih dikenal dengan panggilan mbah Ma’sum merupakan pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Al-Hidayat yang berdiri sekitar tahun 1917 di desa Soditan, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Sejak kecil KH. Ali Ma’sum hidup di lingkungan pesantren. Beliau belajar dan dididik di pesantren ayahnya sendiri yang saat itu menjadi pusat rujukan para santri dari berbagai daerah. Ayahnya berharap KH. Ali Ma’sum menjadi seorang ahli fiqih, sehingga sejak kecil selalu mendapat porsi belajar lebih banyak mengenai ilmu fiqih dibandingkan dengan ilmu lainnya. Namun, KH. Ali Ma’sum lebih menonjol dalam mempelajari ilmu nahwu dan shorof. Jika dilihat dari segi nasab, KH. Ali Ma’sum merupakan keturunan dari Sayyid Abdurrahman yang bernama asli Pangeran Muhammad Syihabuddin Sambu Digdadiningrat atau yang dikenal dengan mbah Sambu.

Pendidikan KH. Ali Ma’sum pertama kali diperoleh dari ayahnya sendiri. Pada usia 10 atau 11 tahun. KH. Ali Ma’sum dititipkan oleh orang tuanya  kepada Kyai Amir di Pekalongan. Setelah menempuh pendidikan di pekalongan, KH. Ali Ma’sum melanjutkan pendidikannya di Termas, Pacitan, Jawa Timur. Di sana beliau berguru kepada Kyai Dimyati dan sejak saat itulah KH. Ali Ma’sum mulai menonjol dalam menguasai ilmu-ilmu agama. Selama menuntut ilmu disana KH. Ali Ma’sum tergolong sebagai remaja yang cerdas. Tidak hanya mempelajari kitab-kitab mu’tabarah saja, melainkan belajar kitab-kitab para pembaharu juga, seperti kitab Tafsīr Al-Manār karya Rasyid Ridlo, kitab Fatāwa karya Ibn Taimiyyah dan masih ada beberapa karya pembaharu yang lainnya. Dengan demikian, tidak heran jika KH. Ali Ma’sum tergolong sebagai santri yang cerdas dan mumpuni dalam memahami kitab-kitab kuning maupun kitab-kitab karya pembaharu.

Dalam masa pendidikannya selama 3 tahun di Termas, KH. Ali Ma’sum sama sekali tidak pernah pulang ke Lasem. Hal itu merupakan wujud semangat beliau dalam menuntut ilmu. Banyak  kitab yang berhasil dikuasai, seperti kitab Fath al-Mu’īn, Tafsīr Jalālain, Alfiyah Ibn Mālik, Minhāj al-Qawīm, Ṣahih Bukhāri dan beberapa kitab yang telah disebutkan di atas. Selain belajar kepada Kyai Dimyati, KH. Ali Ma’sum juga belajar kepada Kyai Masyhud dan Sayyid Hasan Ba’bud. Selain menjadi santri, KH. Ali Ma’sum juga dipercaya untuk mengajar santri-santri junior. Selama di pesantren termas, beliau mendapat julukan “Munjid Berjalan”, sebab kemahirannya dalam menguasai kitab Dahlan, Asymunī, Jauharah al-Maknūn dan Alfiyah Ibn Mālik. KH. Ali Ma’sum belajar di pesantren Termas kurang lebih selama 8 tahun., Mulai dari tahun 1927 sampai tahun 1934.

Selepas belajar di pesantren Termas, KH. Ali Ma’sum kembali ke Lasem dan membantu ayahnya mengajar di pesantren Al-Hidayat. Namun, semangat menuntut ilmunya tetap membara walaupun telah menguasai kitab-kitab besar. Bahkan KH. Ali Ma’sum melanjutkan pendidikannya ke Timur Tengah. Sebelum melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, KH. Ali Ma’sum menikah dengan Ny. Hasyimah binti KH. Munawwir Krapyak pada tahun 1938. Beberapa hari setelah pernikahan, KH. Ali Ma’sum mendapat tawaran dari H. Junaid dari Kauman, Yogyakarta untuk berangkat haji. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya beliau menerima tawaran tersebut karena merupakan salah satu sarana untuk belajar di Mekkah. Dengan berat hati, KH. Ali Ma’sum harus meninggalkan istrinya untuk belajar di sana. KH. Ali Ma’sum berada di Mekkah kurang lebih selama 2 tahun. Selain menunaikan ibadah haji, KH. Ali Ma’sum juga menimba ilmu kepada beberapa syaikh di Mekkah, seperti belajar kitab Luma’ kepada Sayyid Alawy Al-Māliki dan kitab Ṣahih Bukhāri kepada Syaikh Umar Hamdan.

      KH. Ali Ma’sum juga termasuk kyai yang produktif dalam menulis. Karyanya adalah kitab Al-Amtsilah Al-Taṣrifiyyah yang dikenal dengan shorof Krapyak, Fath al-Qodir, Al-Durus Al-Falakiyyah, Badi’at Al-Mitsal, dan Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Selain itu, KH. Ali Ma’sum juga memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah sebagai penggagas pendidikan madrasi (pendidikan dengan sistem klasikal) yang kemudian hari dikenal dengan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

      KH. Ali Ma’sum wafat pada hari kamis, 7 Desember 1989 di usia 74 tahun. Beliau menghembuskan nafas terakhir di RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta setelah delapan hari menjalani perawatan di ruang ICU. Jenazahnya dikebumikan bersebelahan dengan makam KH. Munawwir yang berada di Dongkelan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

 

Baca juga 👉https://bit.ly/BiografiKHMakshumAhmadLasem

 __________________________

Referensi :
[1] Ahmad Zuhdi Mukhdlor, KH. Ali Maksum: Perjuangan dan Pemikiran-Pemikirannya (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 1989).

[2] Ahmad Mubarok Yasin, Ensiklopedi Penulis Pesantren Biografi Singkat Para Penulis Pesantren (Mulai Abad 14 hingga 21 Masehi) (Jombang: Pustaka Tebuireng, 2009)

[3] Ahmad Athoillah, KH. Ali Maksum: Ulama, Pesantren, dan NU (Yogyakarta: Lkis, 2019)

[4] Nur Khalik Ridwan, Ensiklopedia Khittah NU Jilid IV: Tokoh Pemikiran Khittah NU (Yogyakarta: Diva Press, 2020).


Jumat, 29 Maret 2024

Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab

 


Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, dilahirkan di Sidenreng Rappang (Sidrap) pada tanggal 16 Februari 1944, bertepatan dengan 22 Safar 1363 H. Beliau adalah putra keempat dari 12 bersaudara. Ayah ibunya bernama Prof. Abdurrahman Shihab dan Asma Aburisy. Pendidikan dasarnya ditempuh di Ujung Padang, kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang, Pondok Pesantren Darul Hadist al-Fiqhiyah pada tahun 1958. Lalu beliau berangkat ke Kairo Mesir dan diterima di kelas Tsanawiyyah Al-Azhar pada tahun 1967 dan baru meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis Universitas Al-Azhar. Kemudian melanjutkan pendidikan (S-2) pada fakultas dan jurusan yang sama dan memperoleh gelar MA untuk Spesialisasi Bidang Tafsir Al-Quran dengan tesis berjudul al-i’jaz tasyriry li al-Qur’an Al-Karim. Selanjutnya beliau melanjutkan pendidikan (S-3) pada Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo dalam bidang ilmu-ilmu al-Quran dengan memperoleh yudisium summa cumlaud disertai penghargaan tingkat pertama (Mumtaz ma’a martabat al-syaraf al-‘ula).

Sekembalinya ke Ujung Pandang, Prof. M. Quraish Shihab pernah dipercayai menjabat Wakil Rektor Bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, beliau juga diberi amanah jabatan sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam Bidang Pembinaan Mental.

Pada tahun 1984, Prof. M. Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu beliau juga dipercaya memegang jabatan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat sejak 1984, Anggota Lajnah Pentashih Al-Qur’an Departemen Agama sejak 1989, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional 1989 dan Ketua Lembaga Pengembangan. Beliau juga terlibat dalam beberapa organisasi Profesional, antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu syariah, Pengurus Konsorium dan Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (IMC) disela-sela kesibukannya dia juga terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah di dalam maupun luar negeri.

Pada 2004, Prof. M. Quraish Shihab mulai mengembangkan gerakan “Membumikan Al-Qur’an” yang diterjemahkan melalui lembaga yang didirikannya dengan nama “Pusat Studi Al-Qur’an” (PSQ)  . PSQ menjadi kepanjangan tangan dan ide dari beliau untuk mensosialisasikan dan mendakwahkan pemahaman Islam yang moderat dan toleran, yang dilahirkan juga melalui banyak program, seperti Pendidikan Kader Mufassir sebagai media untuk mencetak generasi penerus yang akan menyampaikan pesan Al-Qur’an secara tepat.

Selain itu, Prof. M. Quraish Shihab dibantu dengan beberapa kolega, juga mendirikan Bayt Al-Qur’an di kawasan South City Pondok Cabe yang terdiri dari Pondok Pesantren Pasca Tahfidz yang mendidik para huffadz (Penghafal Al-Qur’an) dari berbagai daerah untuk mendalami Ilmu Al-Qur’an, dan Bayt Al-Qur’an juga mempunyai masjid sebagai media praktik santri dan media mendakwahkan Islam secara konvensional kepada masyarakat sekitar.

 Prof. M. Quraish Shihab juga membantu menginisiasi PSQ untuk berinovasi mendakwahkan Islam Wasathiyyah (moderat) melalui platform digital, dan terbentuklah CariUstadz.id, yang mempertemukan antara jamaa’ah kepada ustadz yang berpemahaman moderat untuk menyelenggarakan kajian bersama, ataupun untuk mensupport kegiatan tertentu.

 Sampai sekarang Prof. M. Quraish Shihab masih aktif dalam menyelesaikan permasalahan dunia Islam Internasional melalui Majlis Hukama’ Al-Muslimin yang terbentuk sejak 2014, dan beranggotakan total 15 orang dari ulama-ulama terkemuka di seluruh dunia. Perkumpulan ini dipimpin langsung oleh Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Dr. Ahmed El-Tayeb.

Saat ini, Prof. M. Quraish Shihab lebih banyak mendedikasikan waktunya untuk menulis buku sebagai aktivitas hariannya, tercatat hingga sekarang sudah 61 judul buku yang sudah ditulisnya, dan tentunya beliau juga mempunyai magnum opus, Tafsir Al-Misbah, dan semua buku karyanya diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati.


Baca juga 👉 https://bit.ly/BiografiMbahMoen
____________________________
Referensi :
 [1] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran, (Tanggerang: Lentera Hati, 2011).

[2] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007).

[3] M. Quraish Shihab, Official Website https://quraishshihab.com/profil-mqs/.