Tampilkan postingan dengan label Sekolah dan Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah dan Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2021

PROFIL SEKOLAH ISLAM UMAR HARUN - SARANG REMBANG

 


PROFIL SEKOLAH ISLAM UMAR HARUN

VISI 

Membangun lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya pribadi Berintegritas,

Merdeka Belajar, dan Kolaboratif.

 MISI

1. Memanusiakan Hubungan

   Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada murid berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid, dan orang tua.

2. Memahami Konsep

    Praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten, tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks.

3. Memilih Tantangan

   Praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna.

4. Memberdayakan Konteks

    Praktik pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sekitar sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi tehadap perubahan.

5. Membangun Keberlanjutan

    Praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan praktik baik.


METODE PEMBELAJARAN

  Sekolah Islam Umar Harun menggunakan metode pembelajaran Blended Learning yaitu pembelajaran berbasis riset yang dilaksanakan di sekolah dan di rumah dengan pendampingan serta kerjasama dari guru dan orang tua. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan prinsip Merdeka Belajar, yaitu:

    - Komitmen pada Tujuan

    - Mandiri dalam menentukan Cara

    - Siap melakukan Refleksi


METODE PENILAIAN

  Sekolah Islam Umar Harun menerapkan metode penilaian otentik dengan menggunakan prinsip:

   1. Ipsative, yaitu penilaian capaian murid dilakukan dengan menganalisa kompetensi awal murid dibandingkan dengan kompetensi murid tersebut setelah proses pembelajaran. Capaian seorang murid tidak dibandingkan dengan murid lain, namun dengan dirinya sendiri. Dengan demikian, Sekolah Islam Umar Harun tidak menggunakan sistem ranking.

    2. Berorientasi pada proses, tidak sekedar hasil akhir.

    3. Komprehensif, mencakup ranah afekti (sikap), psikomotorik (keterampilan), dan kognitif (pengetahuan).


JADWAL PEMBELAJARAN

   Jadwal pembelajaran Sekolah Islam Umar Harun menggunakan sistem blanded learning atau pembelajaran campuran, yaitu pembelajaran yang terintegrasi dengan kegiatan anak di rumah. 

Jam Belajar Di Sekolah :

    1. TPA (Khusus anak dari guru Sekolah Islam Umar Harun) : 08.00 - 12.00 WIB

    2. KB A dan KB B : 08.00 - 11.00 WIB

    3. TK A dan TK B : 08.00 - 12.00 WIB

    4. SD : 08.00 - 12.00 WIB

     

BIAYA PENDIDIKAN

    1)    Biaya Pendaftaran 

           a. PAUD (TPA, KB, TK) : Rp. 1.947.000,- dengan rincian sebagai berikut :

               -       Pendaftaran                : Rp. 50.000,-

               -       Daftar Ulang               : Rp. 30.000,-

               -       Uang Pangkal             : Rp. 1.500.000,-

               -       SPP Bulan Juli 2021    : Rp. 300.000.-

               -       Buku KK                      : Rp. 67.000,-

           b. SD : Rp. 3.447.000,- dengan rincian sebagai berikut :

               -       Pendaftaran               : Rp. 50.000,-

               -       Daftar Ulang              : Rp. 30.000,-

               -       Uang Pangkal            : Rp. 3.000.000,-

               -       SPP Bulan Juli 2021   : Rp. 300.000.-

               -       Buku KK                     : Rp. 67.000,-

          Biaya Pendaftaran dibayarkan melalui transfer ke :
          Rekening                : Giro BRI
          Atas Nama             : Yayasan Umar Harun
          Nomor Rekening    : 603301000108302

    2)   Biaya Bulanan: 

               -       SPP                           : Rp. 300.000,-

    3)   Biaya Tahunan

               -       Daftar Ulang              : Rp. 30.000,-


RAGAM KEGIATAN

   Sekolah Islam Umar Harun menyelenggarakan layanan belajar bagi semua orang yang terlibat di dalamnya, baik murid, guru, karyawan, orang tua maupun yayasan pengelola, melalui beragam aktivitas antara lain:

1. Pembelajaran Berbasis Riset

  Sekolah Islam Umar Harun menyelenggarakan pembelajaran dengan berbasis riset. Murid diajak mengamati, meneliti dan belajar secara langsung dari lingkungan sekitar serta ragam peristiwa sehari-hari melalui siklus Daur Belajar, yaitu; melakukan, mengungkapkan data, menganalisa, menyimpulkan, dan menerapkan. 

  Dengan pendampingan guru dan orang tua, murid terlibat secara langsung dalam program riset ini. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga presentasi. Murid juga diberi kesempatan untuk melakukan evaluasi, refleksi dan perbaikan. 

(Dok. Riset PAUD - Mengamati Hewan Sekitar)

(Dok. Riset SD Membuat Stik Bawang)

(Dok. Riset SD - Presentasi Karya dari Kardus)

 2. Program Kolaborasi 

   Selain program pembelajaran yang dirancang dan dilakukan secara mandiri, Sekolah Islam Umar Harun juga mengadakan program pembelajaran berkolaborasi dengan sekolah lain. Program kolaborasi yang telah dilakukan antara lain:

      1.  Kolaborasi TPA Umar Harun dengan Sekolah Rumah Main Cikal, Cilandak

      2.  Kolaborasi KB B Umar Harun dengan Sekolah Rumah Main Cikal, Cilandak

      3.  Kolaborasi TK A Umar Harun dengan Sekolah Rumah Main Cikal, Cilandak

      4.  Kolaborasi TK B Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Rumah Main Cikal, Surabaya

      5.  Kolaborasi 1 SD Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Cikal Year 1, Serpong

      6.  Kolaborasi 2 SD Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Cikal Year 2, Serpong 

      7.  Kolaborasi 3 SD Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Cikal Year 3, Serpong

      8.  Kolaborasi 3 SD Umar Harun berkolaborasi dengan SD YPJ Kuala Kencana, Papua

      9.  Kolaborasi 4 SD Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Cikal Year 4, Serpong

(Dok. Kolaborasi Kelas TK A dengan Sekolah Cikal, Cilandak)

(Dok. Kolaborasi Kelas 3 SD Umar Harun
dengan SD YPJ Kuala Kencana, Papua)


2. Temu Pendidik Sekolah (TPS)

    Temu Pendidik Sekolah merupakan program belajar bagi guru di internal lingkungan sekolah. Program ini diadakan 2 kali dalam seminggu, yaitu hari Sabtu dan Minggu. Di TPS ini, guru diberi kesempatan untuk saling belajar dan berbagi praktik baik pembelajaran.

(Dok. Kegiatan TPS di Sekolah Islam Umar Harun)


3. Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) dan Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB)

    Saat ini, Sekolah Islam Umar Harun berjejaring dan menjadi penggerak di KGBN dan JSMB. Guru-guru mendapatkan kesempatan belajar yang luas di komunitas dan jaringan tersebut. Beberapa program belajar yang rutin diikuti antara lain:

      1. Temu Pendidik Daerah (TPD) 

          Program belajar antar guru se-Kabupaten, baik secara daring ataupun luring.

      2. Temu Pendidik Live (TPL)

          Program belajar mingguan antar guru se-Nusantara secara daring.

      3. Temu Pendidik Nusantara (TPN)

          Program belajar antar guru se-Nusantara, baik secara daring ataupun luring.

(Dok. Saat menjadi Pembicara di TPN 2019)

(Dok. Sesi belajar bersama Menteri Pendidikan Nadiem Makarim
dan Najeela Shihab - TPN 2019)

(Dok. TPN 2020 Saat Pandemi)
(Dok. Menjadi Pembicara Live di TPN 2020)

   4. Obrolan Guru Merdeka Belajar (OGMB) dan Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar (OPMB)

     Diskusi pendidikan secara daring dengan beragam narasumber yang memiliki perhatian pada pendidikan yang merdeka belajar.


4. Sesi Rangkul / Kelas Orang tua

    Sekolah Islam Umar Harun juga berjejaring dengan yayasan Keluarga Kita dan menjadi relawan Keluarga Kita untuk wilayah kabupaten Rembang. Relawan Keluarga Kita atau yang sering disingkat dengan istilah "Rangkul" mengadakan berbagai sesi belajar bersama baik secara daring maupun luring. Sesi Rangkul ini merupakan wadah bagi orang tua untuk bersama-sama belajar dan berbagi pengalaman serta pengetahuan tentang kepengasuhan dan pendidikan keluarga. Karena sejatinya kepangasuhan adalah urusan bersama dan tidak ada orang tua yang sempurna. 

(Dok. Kegiatan Sesi Rangkul)


PROFIL GURU

    Sekolah Islam Umar Harun memiliki 34 tenaga pengajar. Setiap kelas didampingi oleh 3 atau 4 guru fasilitator. Hampir semua guru telah mengikuti pelatihan GMB (Guru Merdeka Belajar) yang diadakan oleh Yayasan Guru Belajar bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar Guru Nusantara. 

    Selain melakukan tugas utama sebagai guru fasilitator mendampingi proses belajar murid, Sekolah Islam Umar Harun mendukung dan memberi kesempatan yang luas bagi para guru untuk merintis dan mengembangkan karir proteannya. Beberapa guru telah mengembangkan diri menjadi guru pembicara, guru penulis, guru pengembang kurikulum, guru promotor, guru pelatih, guru pembuat konten, guru pembuat desain komunikasi visual, guru pembuat media belajar, dan lain-lain. 

    Beberapa karya yang telah dihasilkan oleh para guru antara lain; buku referensi belajar, tulisan praktik baik pembelajaran yang dimuat dalam Surat Kabar Guru Belajar, antologi cerpen, antologi puisi, antologi cergam, antologi karya ilmiah, board game, video pembelajaran, flash card, dan lainnya.

    Adapun pelatihan yang sudah diikuti oleh guru, antara lain; 

    1. Pelatihan Metode Baca al-Qur'an "Ummi"

    2. Pelatihan Metode Sentra dan magang di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Bekasi

    3. Pelatihan Karakter Positif bersama Matahati Care Center, Malang

    4. Pelatihan Guardian Angel Multiple Intelegences bersama Next Edu, Surabaya

    5. Pelatihan dan magang di SD Semai, Jepara

    6. Seminar Disleksia, di Semarang

    7. Workshop dan magang di sekolah-sekolah dalam jaringan Gerakan Sekolah Menyenangkan, Yogyakarta

    8. Pelatihan Guru Merdeka Belajar, Kampus Guru Cikal

    9. Workshop di Early Childhood Care and Development - Resource Center, Yogyakarta

    10. Pelatihan dan magang di Sekolah Tumbuh 3, Yogyakarta

    11. Pelatihan Kurikulum Merdeka di Sanggar Anak Alam, Yogyakarta

    12. Magang di Sanggar Anak Alam, Yogyakarta

    13. Pelatihan Riset dan Daur Belajar bersama mbak Tyas, Fasilitator Sanggar Anak Alam, Yogyakarta

    14. Pelatihan Menulis bersama mbak Tyas, Fasilitator Sanggar Anak Alam, Yogyakarta

    15. Pelatihan Matematika bersama Magis (Matematika Logis) 

    16. Pelatihan Matematika bersama Gernas Tastaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika)


CONTOH KARYA TULIS MURID, GURU, DAN ORANG TUA

1. Karya Murid : 

- Laporan Riset Tanaman Obat

https://sekolahislamumarharun.blogspot.com/2020/06/laporan-riset-tanaman-obat-afaf-kelas-3.html

- Laporan Riset "Sejarah Sunan Bejagung Kidul-Tuban" 

2. Karya Guru : 

- The Power Of "Kesepakatan"

https://sekolahislamumarharun.blogspot.com/2020/10/the-power-of-kesepakatan.html

3. Karya Orang Tua : 

- Belajar Mengelola Emosi Mulai Dari Diri Sendiri

https://sekolahislamumarharun.blogspot.com/2020/10/belajar-mengelola-emosi-mulai-dari-diri.html





Selasa, 03 November 2020

BELAJAR DARI PENGALAMAN-NUMERASI

  


BELAJAR DARI PENGALAMAN-NUMERASI

Oleh : Nur Amalia Sholichah

 

Siang-29/09/2020
Waktu itu, kami guru dan anak kelas 3 SD Islam Umar Harun sedang sharing cerita tentang pengalaman membuat nugget di minggu lalu. Iya! semester ini kami sedang ada proyek riset nugget. Ada dua kelompok yang dapat giliran sharing cerita di hari ini. 

Awalnya tuh, ada satu kelompok yang sudah menceritakan proses experimennya. Kemudian disusul dengan kelompok lainnya. Proses diskusinya, saya rasa cukup hidup. Anak-anak saling tanya jawab.

Selama proses diskusi, ada cerita menarik. Ada satu anak  yang bercerita tentang lama waktu mengukus. Dia bercerita kalau awalnya mau mengukus 15 menit. Eh... setelah 15 menit berlalu ternyata adonan nuggetnya belum matang. Akhirnya, ditambahlah 15 menit lagi.
Pada saat ditanya, "Jadinya, waktu yang kamu butuhkan untuk mengukus berapa lama?" si anak dengan lantang menjawab 20 menit. Anak yang lainnya bertanya kembali, "eh... berapa?" Si anak tetap menjawab 20 dan ada suara dari anak lain yang menjawab 25.

Diskusi semakin hidup. Anak-anak berkumpul untuk memecahkan persoalan 15+15. Beberapa anak mulai mencoba menjumlahkan dengan bantuan jari. Karena jumlah jarinya tidak cukup, satu anak ada yang berinisiatif meminjam jari teman. Eh... selain itu ada juga yang menjumlahkan dengan cara bersusun. Sepertinya dia masih sedikit bingung dengan cara menjumlahkannya. 5+5=10. Si anak bingung menuliskan angka 10. Dia menulis angka 10 pas di bawah angka 5.

Di tengah anak-anak mencari cara, ada anak yang secara lantang menemukan hasil dari 15+15 yaitu 30. Kemudian ada anak lainnya yang tetap mencoba cara bersusun lagi. Ia menuliskan 0 di bawah angka 5 dan angka 1 nya ditaruh di atas (disimpan). Kemudian ketemulah jawaban 15+15=30. Anak-anak tepuk tangan mendapatkan jawaban itu. Luar biasa.

Anak yang awalnya masih bingung, sepertinya jadi tahu tentang "BAGAIMANA MENJUMLAHKAN DUA ANGKA DENGAN CARA BERSUSUN." Iya, Karena si anak terlibat dalam prosesnya. Seruuu dan bermakna....😍

Cerita dipublikasikan pertama kali di https://ceritaamalia23.blogspot.com/2020/10/belajar-dari-pengalaman-numerasi.html

 

Sabtu, 24 Oktober 2020

THE POWER OF “KESEPAKATAN”


THE POWER OF “KESEPAKATAN”

Oleh : Mir’atul Af’idah - Wali Kelas 1 SD


    Sejak bulan September, sekolah kami ada jadwal tatap muka di sekolah setiap satu minggu sekali. Setiap kelas dibagi menjadi dua kelompok, untuk meminimalisir kerumunan.

    Hari itu teman-teman kelompok pertama masuk tatap muka di sekolah. Seperti biasa, mereka sangat ceria dan ekspresif. Melepas rindu belajar di sekolah dan mungkin kejenuhan terlalu lama di rumah. Kegiatan berjalan sebagaimana biasanya. Saat jam kegiatan, tiba-tiba Mbak Aida dan Mbak Aira meminta izin untuk bermain di Playground. Akhirnya kami mencoba untuk mengajak mereka ngobrol, mengajak berpikir logis dan kritis.

    "Sekarang kan waktunya kegiatan, gimana kalau bermain di playgroundnya nanti saat jam istirahat ?", jelas kami mencoba memberi pengertian.

    Mereka terlihat mencerna apa yang kami katakan. Tapi, ternyata mereka masih mencoba bernegosiasi. "Kami pengennya main sekarang, Bu", sahut mereka.

    Akhirnya kami membuat kesepakatan bersama. "Oke deh, boleh bermain di playground sekarang. Tapi kan kita masih ada kegiatan nih yang harus dilakukan, jadi solusinya bagaimana donk?", Saya mencoba mengajak mereka berpikir logis dan mencari solusi.

   "Bagaimana kalo kita mainnya 5 menit aja, Bu ? Boleh ?", mereka mencoba menawarkan solusi dan idenya. Akhirnya kami menyepakati itu.

   Mereka berlari menuju Playground dan bermain. Di tengah-tengah asyik bermain, mereka bertanya pada guru yang ditemui di dekat playground. "Bu, sekarang jam berapa ? Sudah berapa menit ?". Guru yang ditanya agak bingung.

   "Lah emang tadi bermainnya mulai jam berapa ? Sepertinya sudah 5 menit Mbak. Emang kenapa toh ?".

    Mereka mencoba menjelaskan, "Kita tadi kesepakatanya bermain 5 menit, jadi sekarang harus kembali ke kelas." Akhirnya mereka pun bergegas kembali ke kelas dengan ceria dan sudah lebih siap untuk belajar. Betapa bahagianya menjadi anak-anak ketika orang dewasa mau memahami mereka.

Selasa, 12 November 2019

BELAJAR MERDEKA UNTUK MERDEKA BELAJAR



BELAJAR MERDEKA UNTUK MERDEKA BELAJAR
Story by : Guru Joko Supriyanto*

            Apa jadinya saat guru sudah merancang kegiatan, namun anak memilih untuk melakukan kegiatan lain? Apa yang harus dilakukan oleh guru?
10 November 2019. Pada tanggal itu bertepatan dengan hari Minggu dan peringatan hari pahlawan, dimana itu adalah jadwal saya untuk mengisi kelas ekstra. Ekstra silat tepatnya, karena itu yang diamanahkan untuk menjadi tanggungjawab saya. Sebagaimana biasanya, jauh-jauh hari saya sudah merancang kegiatan bersama tim guru ekstra silat lainnya dan kami sepakat untuk melanjutkan program latihan sesuai dengan LP yang dibuat, yaitu latihan kekuatan otot kaki dan seni dasar bermain tongkat. Untuk tempat pelaksanaannya seperti biasa, kami melakukan disudut lapangan yang cukup teduh untuk latihan bersama anak-anak.
Kini saatnya tiba. Setengah jam sebelum kegiatan dimulai, kami menemui pendamping anak di masing-masing kelas untuk menanyakan kesiapan anak mengikuti kelas ekstra. Sedikit gambaran, kelas ektra kami ini diikuti anak-anak dari lintas jenjang, dari kelas TK A – kelas 3 SD, semua berlatih bersama dalam satu tempat.
Setelah melakukan koordinasi dengan masing-masing pendamping kelas, di luar dugaan kami mendapat informasi bahwa mayoritas anak menginginkan berlatih di tempat lain (tidak di lapangan) dengan berbagai alasan yang mereka ungkapkan, salah satunya karena tempat lapangan lumayan jauh dan sebagian juga bosan karena sudah sering latihan di sana.
“waduhhh,… gawattt,… kacau semua deh rencananya”. Sepintas kata ini yang muncul dibenak saya. Namun bagaimanapun juga kelas ekstra harus berlanjut, kami segera berembuk untuk mencari solusi. Kami melakukan survei di beberapa tempat yang dekat dengan sekolah. Hingga akhirnya kami menemukan tempat yang menurut kami cocok untuk berkegiatan, semoga saja tempat ini juga cocok menurut anak. Tempat tersebut berada di dekat pantai yang cukup teduh karena banyak pohon cemara di sana, berada di belakang kantor PKK dan lebih dekat dibanding tempat latihan sebelumnya.
Anak-anak sudah berkumpul di depan gerbang sekolah dengan ditemani guru pendamping dari masing-masing kelas. Kami menceritakan tentang lokasi yang kami temukan. Alangkah bahagianya, mereka bersorak riang gembira dan tampak lebih semangat dari sebelumnya. Kami mulai berjalan beriringan dengan formasi anak SD mengandeng anak PAUD untuk menumbuhkan sikap saling menjaga dan menghormati, mengingat juga rute perjalanan kami akan ada sesi penyebrangan jalan.



Setelah sampai di lokasi, kami memberikan kesempatan anak untuk bermain-main sekedarnya. Ada yang bermain pasir, mengumpulkan dedaunan, melihat laut lebih dekat, dan ada juga yang memilih duduk santai di bawah pohon. Kami senang melihat ekspresi anak yang senang dan ceria, kami mengamati kegiatan mereka sembari megawasi dari kejauhan. Setelah dirasa cukup, kami mengumpulkan anak-anak di satu titik untuk memulai kegiatan.
Kami berembuk kembali dengan tim guru tentang kegiatan apa yang akan diberikan ke anak. Kami teringat dengan salah satu slogan dari SALAM (Sanggar Anak Alam) bahwa Anak adalah Mahaguru bagi dirinya dan sumber belajar bagi temannya. Kami setuju dengan slogan tersebut, dan berbekal pengetahuan tentang siklus merdeka belajar, kami sepakat untuk membuat kegiatan yang semua berasal dari anak, untuk anak, dan tentunya sesuai dengan perkembangan anak. Terserah anak mau berkegiatan apa saja, kami sebagai guru akan berperan sebagai fasilitator bagi anak.



Praktik siklus pertama : Komitmen pada tujuan. Pada awalnya kami meminta untuk bersama-sama melihat ke arah laut dan memfokuskan ke satu objek atau benda. Selang beberapa saat, kami bertanya ke masing-masing anak hingga akhirnya mereka menyadari bahwa dalam satu arah yang sama, ternyata bisa memunculkan banyak pandangan yang berbeda. Saat ditanya apa yang dilihat, anak menjawab ada yang melihat batu, ombak, pasir, laut, kapal, benteng runtuh, dan lain sebagainya. Dari jawaban inilah kami mencoba untuk menanamkan ke anak bahwa setiap orang itu berbeda, baik sudut pandang maupun kemampuan yang dimilikinya.
Oleh karena itu dalam kehidupan kita akan selalu membutuhkan orang lain dan dari hal itulah kita seharusnya saling menjaga dan saling menyayangi antar teman. Nah, masuk deh, point inti dari makna silat yang bukan sekedar berantem, tapi lebih untuk menjaga diri maupun orang lain.

Di bagian ini kami juga ingin menekanlan lagi bahwa untuk latihan silat itu tidak melulu dengan cara yang keras, namun bisa juga dengan cara bermain yang menyenangkan. Namun saat itu kurang efektif karena anak berkumpul dalam kelompok besar, anak-anak jadi kurang paham dengan apa yang kami sampaikan. Menyadari hal ini, kami langsung membagi anak dalam kelompok kecil. Kebetulan saat itu ada tiga teman guru yang ikut mendampingi ekstra silat. Akhirnya kami membagi anak dalam tiga kelompok kecil hingga masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 anak, sedangkan saya sendiri berperan sebagai pemandu acara. Kami bekerjasama dengan guru pendamping di masing-masing kelompok untuk menyampaikan maksud dari apa yang saya sampaikan di awal serta memberi penguatan ke anak bahwa inti dari latihan fisik dalam ekstra silat itu bisa dilakukan dengan media apapun, tidak bergantung pada satu media saja, misal matras, barbel, samsak sebagaimana yang sering kita pakai dalam latihan.



Praktik siklus kedua : Mandiri menentukan cara. Setelah semua informasi dan penguatan disampaikan ke anak, kami mulai memberikan misi. Kami memberikan kebebasan kepada anak untuk mencari benda apapun disekitar tempat latihan untuk kemudian dibuat menjadi media yang bisa digunakan untuk latihan bersama dengan teman-teman lainnya. Mereka mulai bergerak melakukan misinya dengan ditemani satu guru sebagai fasilitatornya. Tak disangka ternyata anak-anak bisa menemukan media diluar perkiraan kami. Kelompok pertama menemukan beberapa botol dan sandal bekas. Botol tersebut diisi pasir hingga penuh dan ditaruh berjajar. Sedangkan sandal bekasnya digunakan untuk melempar dari kejauhan. Ketika saya tanya alasannya kenapa hal itu bisa dijadikan media latihan, mereka menjawab : “iya, kami membuat media untuk latihan kefokusan, karena dalam silat juga dibutuhkan kefokusan pada sasaran, saat memukul atau menendang.” Kiranya keterangan inilah yang muncul dalam pembahasan kelompok mereka.





Tidak cukup sampai disitu, tim kelompok satu juga menambahkan tantangan berjalan jongkok dengan jarak yang dekat untuk bisa melatih otot dan kekuatan kaki. Dalam praktiknya anak akan diminta berjalan jongkok mengambil sandal bekas yang disediakan untuk kemudian bisa digunakan untuk melempar botol berisi pasir yang sudah disiapkan. Untuk memahamkan kelompok lain terkait peraturan permainan ini, akan ada perwakilan satu anak dari kelompok satu yang akan menjelaskan dengan didampingi fasilitator dalam kelompok dan hal demikian akan dilakukan oleh kelompok yang lain juga.




Kelompok dua rupanya tak mau kalah. Mereka menemukan dahan kayu yang menghubungkan antara 2 pohon hingga bisa digunakan untuk bergelantungan dan latihan meniti untuk keseimbangan. Tak lupa fasilitator juga turut mencoba media tersebut. Tujuannya agar anak mendapat contoh yang jelas dan lebih mudah untuk dipahami. Untuk anak-anak yang sudah berani, mereka terlihat semangat untuk mencoba bahkan hingga berkali-kali. Untuk yang belum berani, kami akan membantu anak dengan memegangi tangannya saat meniti. Tak apa, meski beberapa anak terlihat ragu, akhirnya mereka berani mencoba dan itu menunjukkan bahwa anak sudah mampu mengalahkan rasa takutnya. Terlihat juga dalam latihan ini, anak-anak saling membantu agar teman lain yang mencoba tidak terjatuh dari media.




Untuk kelompok tiga, mereka menemukan ranting kayu panjang dan potongan kayu besar. Mereka menjadikan benda tersebut sebagai media untuk melatih keseimbangan juga, namun bedanya dalam meniti kayu besar tersebut anak akan membawa ranting panjang untuk membantu menjaga keseimbangan, layaknya aksi yang biasa dipentaskan oleh pemain akrobat. Setelah berhasil meniti kayu hingga ujung, tongkat boleh diletakkan dan anak akan melakukan aksi roll depan sebagaimana praktik materi yang diajarkan di dua minggu sebelumnya.









Begitulah tiga media yang diciptakan anak-anak. Kami membuat kesepakatan untuk bergantian dalam memainkan tiga media tersebut hingga semua anak bisa mencoba ketiganya. Kami melihat anak-anak begitu semangat dan antusias dalam mencoba semua media yang diciptakannya. Mungkin inilah arti merdeka belajar bagi mereka. Bisa belajar dengan media apapun yang diciptakan dan sesuai dengan keinginannya.

Begitu menyenangkan kegiatan hari ini. hingga tidak terasa waktu kelas ekstra di hari itu sudah selesai, kami mengakhiri sesi latihan dengan foto bersama dan menyorakkan slogan baru yang tiba-tiba terbentuk saat itu. Slogan kami saat itu adalah : “Ekstra Silat,….. Sehat, Kuat, Semangat”. Begitulah ceritaku bersama anak-anak saat kelas ekstra. Saya tersenyum lepas saat menuliskan cerita ini, membayangkan anak-anak dengan tingkah lucunya saat merayu saya untuk melakukan hal serupa di latihan berikutnya. Saya sebagai guru, tentunya mengangguk dan dengan senyum semangat meng-iyakan permintaan mereka.


Praktik siklus ketiga : refleksi untuk perbaikan. Setelah kembali dari tempat latihan, sepulang sekolah kami mencoba merefleksikan kegiatan, dan kiranya memang masih ada ketidak tepatan yang kami lakukan dan harus diperbaiki. Ketidak tepatan itu adalah pada saat anak-anak selesai mencoba semua media sedangkan ada teman lain yang belum selesai. Kami lupa untuk memberikan intruksi selanjutnya kepada mereka, dan akhirnya beberapa dari mereka ada yang bermain air di tepi pantai, berjalan jauh mencari kerang, dan lain sebagainya. Melihat hal itu kami langsung mengingatkan anak untuk tidak bermain jauh dari lokasi latihan dan tetap dalam pengawasan guru. Kami memberikan kesempatan kepada anak utuk bermain sekedarnya dan tidak berlebihan serta dengan batasan waktu yang telah kami sepakati.
Itulah refleksiku pada kegiatan ini, dan akan saya perbaiki untuk kegiatan berikutnya serta mempraktikkan kembali siklus merdeka belajar dari awal. Hal itu akan terus terjadi. Karena dalam sebuah siklus memang tidak ada titik akhir, akan terus berkelanjutan. Saat tiba waktu untuk merefleksikan, pasti akan tetap kita temukan beberapa kesalahan, dan justru dari kesalahan itulah kita akan bisa melakukan perbaikan untuk masa depan.