Tampilkan postingan dengan label Pameran Karya guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pameran Karya guru. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juni 2021

MEDIA MERDEKA BELAJAR-CAT TEPUNG WARNA (BU AISYAH-GURU KELAS KB B)

 Mengenal Warna Dasar Dan Campuran

Dengan Membuat Cat Tepung Warna

Siti Aisyah, Guru Kelas KB-B



Kegiatan di awal pembelajaran kelas KB-B (usia 3-4 tahun) yaitu membuat campuran warna menggunakan warna dasar dengan tujuan mengenal warna dasar dan campuran. Sebelumnya, mereka menggunakan media krayon untuk mewarnai dengan warna yang senada dengan warna pelangi.

Pertama kali sekolah, mayoritas dari mereka belum mengenal warna dasar dan campuran. Padahal di tahapan perkembangannya mereka yang sebenarnya sudah mampu mengenal warna dasar dan campuran.

Oleh karena itu, kami tim guru kelas KB-B sepakat ingin menumbuhkan dan mengenalkan warna dasar berdasarkan latar belakang anak melalui tahapan daur belajar, yaitu melakukan, mengungkapkan data, analisis, kesimpulan dan menerapkan.

1. Melakukan: anak diajak terlebih dahulu membuat cat tepung berwarna dan mencampur beberapa warna dasar untuk menjadikan warna campuran;

2. Ungkap data: anak diajak untuk mengenal dan menyebutkan bahan dan alat untuk membuat cat tepung berwarna.

3. Analisis: anak diajak berpikir kembali. Misal;

a. Warna jingga dihasilkan dari warna dasar merah dan kuning.

b. Warna biru dihasilkan dari warna dasar kuning dan biru

c. Warna ungu dihasilkan dari warna dasar merah dan biru

d. Warna coklat dihasilkan dari warna dasar merah, kuning, dan biru

4. Simpulan: anak-anak bisa menyimpulkan kalau warna campuran itu berasal dari warna dasar yang dicampur.

5. Terapkan: anak-anak mampu menerapkan kegiatan mengenal warna melalui pembuatan cat tepung warna. Pada tahap menerapkan ini, anak-anak juga diberi kesempatan untuk berpendapat terkait ingin melakukan kegiatan mengenal warna melalui media air warna atau mengenal warna dari benda-benda sekitar.

Kegiatan mengenal warna berulang-kali dilakukan, hingga anak-anak dapat mengetahui dan mengenal warna dasar dan campuran, meskipun ada beberapa anak yang masih butuh bimbingan dalam mengenal warna.

Selain tujuan yang dimasukkan dalam kegiatan belajar, ada juga profil yang dicapai anak dalam melakukan kegiatan tersebut. Misalnya profil respek; yaitu anak siap mengantri, menunggu giliran untuk mengambil warna catnya, mendengarkan guru saat bertanya cat warna yang dibawa guru. Percaya diri; yaitu anak mampu mengambil dan memcampurkan warna dasar untuk membuat warna campuran secara mandiri. Sehat; yaitu anak bersedia cuci tangan, kaki dan alat yang digunakan untuk kegiatan.

Itulah sedikit cerita dari saya, terima kasih banyak 


Ingin tahu lebih banyak tentang karya guru lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini

Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini

MEDIA MERDEKA BELAJAR-PEMANFAATAN LIMBAH (BU FARIDAH-GURU KELAS TK B)

 Pemanfaatan  Limbah  (Serbuk Kayu/Serbuk Gergaji)

Sebagai Media Belajar Menyenangkan

Oleh: Faridatun Niswaturrifah

(Guru Kelas TK B)

Sekolah Islam Umar Harun

 

Perkenalkan nama saya Farida, saya adalah guru baru di Sekolah Islam Umar Harun empat bulan yang lalu, tepatnya di bulan Januari hari Senin tanggal 25 Juni 2021. Merasa beruntung sekali bisa mendapat kesempatan belajar bersama di lingkungan dan suasana yang orang-orangnya selalu semangat belajar dan saling mendukung satu dengan lainnya. Hari demi hari saya lalui bersama teman baru, guru, anak dan orang tua dengan semangat dan komitmen tinggi, yang hal ini juga saya dapatkan dari dukungan dan doa keluarga tercinta di rumah. Setiap hari belajar bersama dengan guru dan anak, selalu ada banyak hal baik yang bisa saya dapatkan untuk praktikkan kembali di lingkungan keluarga atau lingkunga sekitar.

Suatu hari saat sedang berdiskusi merancang media pembelajaran yang menarik dan memberi tantangan baru untuk anak-anak, media pembelajaran yang mudah dan banyak ditemui di sekitar, saya mengusulkan ide bersama tim guru kelas TK B untuk memanfaatkan limbah serbuk kayu pembuatan kapal sebagai media belajar.

Pada zaman era modern seperti saat ini berbagai media belajar makin beraga dan semakin canggih-canggih, menyenangkan sih tapi pastinya perlu modal atau biaya yang tak sedikit untuk mendapatkannya. Nah, pada kesempatan ini saya ingin berbagi praktik baik yang saya lakukan dan alami saat belajar bersama anak-anak TK B dengan menuliskan sedikit pengalaman yang pernah saya praktikkan ke anak-anak TK, yaitu memanfaatkan limbah serbuk kayu sebagai media belajar anak-anak. Sebelum serbuk ini digunakan saya berinisiatif untuk menambah warna untuk membuat serbuk kayu menjadi menarik, serbuk kayu ini agar bias awet dan tahan lama diberi pewarna kemudian dijemur sampai kering untuk bisa digunakan kapan saja.

Saya berinisiatif mewarnai serbuk kayu tersebut menjadi beberapa jenis warna, ada warna merah, kuning, hijau, jingga, dan cokelat. Senang sekali rasanya mendapatkan respon baik dari mereka saat media ini mulai digunakan di kelas, anak-anak terlihat antusias, tertarik dan semangat memberikan berbagai ide kreatifnya. Dari ide mereka semua serbuk ini bisa digunakan menjadi media belajar untuk berbagai kegiatan, bisa untuk melukis, menyalin, membentuk berbagai karya/mencetak, kolase dll.

 




Berikut ini beberapa dokumentasi anak-anak kelas TK B saat bermain serbuk kayu warna.






Alhamdulillah anak-anak TK B terlihat antusias sekali belajar menggunakan media ini, anak-anak biasanya bermain serbuk warna ini sebagai kegiatan literasi, anak-anak bisa menulis berbagai huruf, angka, membentuk kata, menggambar, mencetak dan bisa juga digunakan untuk kolase loh. Disisi lain, anak juga bisa belajar tentang warna, mengenal kasar halus dengan meraba dan belajar bertanggung jawab mengembalikan semua bahan dan alat, serta bekerja sama membersihkan serbuk kayu selesai berkegiatan. Saking antusiasnya anak-anak sebelum menggunakan media ini, mereka mampu berbagi tugas untuk menyiapkan bahan atau alatnya, seperi papan yang akan digunakan untuk menuang serbuk kayu dan alat tulis yang sudah tidak terpakai untuk menyalin.

Dari peristiwa ini, saya menemukan bebrapa hal baik yang menjadi kekuatan dan hal yang menjadi kebutuhan selama proses berkegiatan dengan serbuk kayu ini. Menurut saya  hal baik yang menjadi kekuatan: dari media ini dapat mengasah kreatifitas anak, bebas menuangkan ide, kerja sama dengan teman, dan mengembangkan kemampuan motorik halus. Sedangkan hal yang menjadi kebutuhannya yaitu membutuhkan waktu yang cukup lama dengan semangat anak untuk memainkan sesua idenya. Alhamdulillah, dari kekurangan ini kami merefleksikan dan menemukan cara bersama anak, sebelum kegiatan dimulai dibuatlah kesepakatan waktu untuk bermain dan mereka siap bersepakat untuk bisa memanfaatkan waktu.

Hal sederhana yang bisa menghasilkan banyak ide atau karya dari mereka anak-anak hebat, mengapa tidak? J J


Ingin tahu lebih banyak tentang karya guru lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini

Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini

MEDIA MERDEKA BELAJAR-POTONGAN STIK ES KRIM (BU CHORID-GURU KELAS 2 SD)

 

Potongan Stik Es Krim

Siti Choridah, Guru Kelas 2 SD

Sekolah Islam Umar Harun 

 

Apa itu pecahan? Apa maksudnya 1/2 atau 1/3?

Hari ini Dirga dan Aesya cerita tentang proses risetnya. Dirga riset membuat mainan robot dari stik es krim, sedang Aesya riset membuat kue ulang tahun untuk ibunya.

Pada perjalanan risetnya, Aesya 3 kali mencoba membuat kue bersama ibunya. Pada beberapa percobaan itu, Aesya pernah memotong kuenya menjadi beberapa bagian. Kue pertama dipotong menjadi 4 bagian; sepotong untuknya, sepotong untuk abah, sepotong untuk ibu, sepotong lagi untuk dek Assa. Sebenarnya dia punya adik lagi 1, tapi belum boleh makan kue, jadi tidak mendapat bagian dari kue buatannya. Pada percobaan kedua, Aesya memotong kuenya lebih banyak daripada sebelumnya, potongan-potongan kecil kuenya juga dibagikan kepada mbak-mbak yang membantu menjaga toko orang tuanya. Dari cerita Aesya, teman-temannya jadi belajar bahwa satu kue dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Jika dipotong menjadi 4 bagian, maka setiap satu potong bernilai 1/4. Maksudnya 1 potong kecil dari 4 potong keseluruhan. Menurut Aesya sepotong kue dengan satu kue utuh ukurannya berbeda. Sebelum dipotong, kuenya besar. Setelah dipotong jadi beberapa bagian, setiap satu potong bagian ukurannya lebih kecil daripada satu kue utuh. Ternyata 1 kue utuh lebih besar daripada 1 potong kue. Artinya 1 lebih besar daripada 1/4.  Bahkan 2 potongnya saja juga masih kalah besar dengan 1 kue utuh. Artinya 1 masih lebih besar daripada 2/4.

"Kalau kue kan bisa dibagi, kalau stik es krim bisa dibagi juga tidak ya?"

"Bisa bu kalau stik es krimnya banyak."

"Lah kalau stik es krimnya hanya satu?"

"Nggak bisa bu. Gimana caranya?"

Berikutnya, Dirga juga bercerita tentang proses risetnya. Dia bercerita bagaimana sulitnya membuat setiap bagian dari mainan robotnya. Jika diamati, setiap bagian dari kerangka robot menghabiskan jumlah stik es krim yang berbeda. Untuk merakit tangan robot memerlukan jumlah stik es krim yang lebih banyak daripada merakit bagian leher robot. Untuk merakit bagian tubuh robot memerlukan stik es krim lebih banyak lagi.

Saat Dirga memperlihatkan robotnya, teman-temannya melihat ada 4 lapis stik es krim berukuran pendek di bagian leher robot, dan ada 2 lapis stik es krim berukuran panjang pada masing-masing lengan robot. Menurut cerita Dirga, untuk merakit leher robot hanya butuh 1 stik es krim, kemudian dipotong kecil-kecil menjadi 4 bagian. Sementara untuk merakit lengan robot, butuh 2 stik es krim utuh.

"Oh berarti aslinya yang bagian leher robot itu cuman 1 stik es krim saja ya. Kok kayak 4 ya". Satu teman merespon cerita Dirga, disusul rasa penasaran dari teman-teman lainnya.

"Jadi 1 lapis leher robot itu sama dengan berapa per berapa?"

"1/4 bu. Soalnya kan itu asalnya 1 tapi terus dipotong jadi 4. Jadi 1/4"

"Kalau 4 potongan kecil stik es krim tadi digabungkan, sama dengan 1 stik es krim atau tidak ya?"

"Iya sama ternyata"

Dari situ kemudian kami menyimpulkan bahwa 4/4 itu sama dengan 1.

Dari peristiwa riset Aesya dan Dirga, kami jadi merasakan kaitannya konsep Matematika dengan kehidupan langsung. Peristiwa yang benar-benar terjadi di kehidupan anak dan mereka sendiri yang menjadi pelaku peristiwa belajarnya.

Peristiwa ini sebenarnya adalah peristiwa yang sangat biasa. Sangat lumrah dilakukan oleh anak-anak di belahan bumi manapun sepertinya. Tapi jika dibiarkan begitu saja tanpa dibicarakan, bagaimana peristiwa yang setiap harinya terjadi ini dapat menjadi pembelajaran yang bermakna?

Sebagai guru, sebenarnya tidak banyak pengetahuan yang saya bagikan ke anak-anak. Sebagai fasilitator, saya juga masih terus belajar caranya mengajar, caranya masuk ke dunia mereka, menjadi teman mereka, dan memfasilitasi mereka belajar. Mencoba mengajari anak caranya belajar, bukan mentransfer sebanyak-banyaknya pengetahuan yang mungkin saja 'tidak atau belum mereka butuhkan'.


Ingin tahu lebih banyak tentang karya guru lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini

Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini

MEDIA MERDEKA BELAJAR-PROVOKASI DENGAN MEDIA KESUKAAN ANAK (BU AMI-GURU KELAS TK A)

 Provokasi dengan media kesukaan anak

(Aminatuliyah, TK A Islam Umar Harun)


Suasana kelas yang kondusif, tenang dan menyenangkan merupakan harapan kami setiap akan memulai pembelajaran. Berharap semua kegiatan berjalan sesuai RPP, menyenangkan tanpa hambatan. Pada kenyataannya kadang harapan itu tidak sesuai, anak-anak berlarian atau bermain di luar kelas. Apalagi saat hari pertama masuk sekolah setelah 3 hari belajar di rumah (Hari Jum’at, Sabtu dan Minggu) tenaga mereka full bak selesai di charge dan siap untuk disalurkan. Selain bermain di halaman, biasanya meja dan kursilah yang menjadi sasaran utama di kelas, Tentu saja ini membuat kondisi kelas kurang nyaman. Apalagi saat akan kegiatan mabda’ (kegiatan keagamaan seperti praktik gerakan wudhu dan salat, menghafal surat-surat pendek, hadis pilihan, doa-doa harian) anak-anak terlihat tidak  semangat bahkan ada yang tidak bersedia mengikutinya karena masih asyik bermain meja dan kursi.

Ketika anak-anak tidak semangat  dan kondisi kelas tidak kondusif seperti itu, kami sering mengingatkan mereka seperti ”ayo kita kegiatan mabda’ dulu nanti bermain lagi, kalau teman-teman mabda’nya tidak segera nanti kita bisa terlambat pulangnya karena kegiatan yang lainnya juga  akan mundur, ayo bertanggungjawab dikembalikan dulu meja dan kursinya, bawa kursinya di angkat bukan di dorong, turun dari meja, dan lain-lain. Kami mengingatkannya terkadang dengan suara keras, karena tidak mau kalah dengan kebisingan mereka.

Saya dan tim kelas harus segera melakukan tindakan agar anak-anak semangat saat kegiatan mabda’. Seperti biasa, sepulang sekolah kami berefleksi, Kami menyadari bahwa mabda’ memang kegiatannya ya itu itu terus jadi wajar kalau anak-anak cepat bosan. Seharusnya kami sebagai fasilitator harus bisa mengemasnya semenarik mungkin. Supaya anak-anak tetap semangat dan tertarik untuk mengikutinya.

Melihat anak-anak lagi suka-sukanya bermain dengan meja dan kursi, kami berencana menggunakannya sebagai media untuk provokasi. Kami juga merancang provokasi tersebut dengan memasukkan tujuan belajar sensori fisik motorik seperti berlari, berhenti dan melompat dengan lincah, berdiri dengan 1 kaki selama 10 detik, jalan mundur dengan berjinjit, naik turun tangga dengan kaki bergantian tanpa berpegangan dan berjalan pada balok Titian tanpa hambatan. Karena provokasi dengan media kesukaan anak, Alhamdulillah mereka terlihat ceria dan semua anak siap dengan semangat melakukan kegiatan mabda’ satu persatu. Kelas pun terasa lebih kondusif. Kegiatan juga bisa terlaksana sesuai jadwal.




 

 

Ingin tahu lebih banyak tentang karya guru lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini

Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini

Kamis, 03 Juni 2021

REFLEKSI KARYA GURU-PEMIMPIN SIAP BEREFLEKSI (BU NISA GURU KELAS 4 SD)


 Pemimpin Siap Berefleksi, Terwujudlah Perbaikan Diri Setiap Hari

Zakiyatun Nisa, Guru Kelas 4SD

    Berperan menjadi seorang pemimpin menurut saya, merupakan proses penataan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Bagaimana seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi timnya, bertanggungjawab terhadap semua tugasnya, mengatur semua agenda harian untuk menghindari tugas yang menumpuk dan tertunda. Namun, pemimpin juga seorang manusia biasa yang tak luput dari sebuah kesalahan, dimana terkadang ego dalam diri yang berperan. Biasanya, kalau ego yang sedang mendominasi dalam diri, akhirnya muncul sikap malas, menunda tugas dan cenderung cepat emosi. Adanya hal-hal seperti demikian yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja seorang pemimpin. Sering pula pemimpin ada saatnya berada di titik jenuh seperti ini, menghadapi semuanya dalam kesendirian.

    Selain tanggungjawab terhadap tugasnya, seorang pemimpin juga harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap semua yang menjadi amanahnya. Hal tersebut yang selalu saya usahakan untuk mewujudkannya . Adanya banyak tugas yang perlu diselesaikan tidak menjadi hambatan untuk tetap berdaya mencari cara dan merefleksikannya.

    Harapan pasti selalu menjadi angan yang selalu ingin diwujudkan. Bagaimanapun caranya diusahakan dapat tercapai dengan hasil yang maksimal. Dalam perjalanan saya mewujudkan harapan menjadi seorang pemimpin yang berkomitmen dan bertanggungjawab tetap mengalami berbagai tantangan. Tantangannya pun beragam dari faktor internal dan faktor eksternal. Tantangan faktor internal lebih pada bagaimana saya mengelola diri yaitu menyeimbangkan antara kepentingan pribadi dan tujuan bersama. Dimana saya tidak larut dengan kebutuhan diri sehingga melalaikan tugas utamanya. Sering sekali, jika saya sudah merasa penat dengan berbagai tugas kepala sekolah, saya cenderung akan memilih sedikit abai dengan yang terjadi pada saat itu dalam jangka waktu yang lumayan lama. Kesannya saya terlihat seperti sedang rehat sejenak tapi sebenarnya saya  sedang menghindari masalah.

    Dampak dari itu semua, akhirnya meluas hingga ke faktor eksternal yaitu banyaknya tugas yang menumpuk sehingga ada beberapa agenda rapat dan tugas lainnya yang overlapping. Pastinya banyak agenda menjadi mundur tidak sesuai target dan harus reschedule. Ditambah lagi semua agenda yang saya  rencanakan tidak pernah saya catat. Saya terbiasa mencatat itu hanya di fikiran saya saja. Dikarenakan saya pernah ,mencoba mencatat semua agenda yang harus saya lakukan, tapi pada akhirnya semuanya zonk tidak terlaksana.

    Cukup meresahkan jika saya terus menerus saya tidak segera melakukan perbaikan diri. Saya tidak bisa dengan segera mengajak tim guru untuk melakukan banyak hal terhadap tugasnya, kalau saya sendiri masih berkutat dengan berbagai kendala dalam diri saya. Di satu waktu saya akhirnya melakukan refleksi besar-besaran. Memetakan kebutuhan saya yang perlu dibenahi dan menentukan tindaklanjutnya.

 

No

Kebutuhan

Aksi

1.

Pengendalian diri yang belum stabil

Melakukan selftalk, mempertanyakan pada diri sendiri terkait tujuan menjadi kepala sekolah, kenapa mau menjadi kepala sekolah, bagaimana menjadi kepala sekolah yang baik, kapan merasa sudah merasa menjadi kepala sekolah yang baik. Proses selftalk saya lakukan dengan membuat pertanyaan yang tertulis dan saya pun menjawab sendiri perrtanyaan-pertanyaan tersebut, karena terkadang sebenarnya diri sendiri itu belum tahu melakukan sesuatu itu atas dasar apa. Dari catatan pertanyaan ini maka akan terlihat keseimbangan diri apakah masih berfokus pada ego atau tujuan bersama.

2.

Sering menunda tugas ketika moodnya tidak baik

 

Memperbaiki mood dengan melakukan me time yaitu memberikan kesempatan diri untuk rehat sejenak dengan melakukan kegiatan yang disukai seperti: nonton film, baca buku, mendengarkan musik, ngobrol dengan teman. Untuk menghindari me time yang berlarut-larut, saya membuat standar pencapaian diri, yaitu ketika saya sudah dapat tertawa, tersenyum atau merasa bersemangat lagi bahkan menemukan insight dari me time yang saya lakukan. Berarti disitu sebenarnya mood saya sudah membaik, lalu segerakan untuk melakukan tugas berikutnya

3.

Terkadang masih memilih lari dari masalah

Sebenarnya lari dari masalah ini adalah ketidakmampuan diri untuk melakukan refleksi, maka yang terjadi saya lari, abai dan tidak peduli. Maka yang saya lakukan sama dengan point 1 yaitu selftalk dengan panduan pertanyaan yang berbeda. Dilakukan ditempat yang hening dan membuat nyaman, karena suasana yang nyaman akan mudah membuat diri berfikir jernih

4.

Jarang mencatat agenda harian yang akan dilakukan

Memulai membiasakan diri mencatat setiap agenda harian yang akan dilakukan, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, yaitu jika dengan mencatat maka hasilnya akan zonk tidak terlaksana. Saya memulai dengan mencatat agenda harian sekitar satu sampai tiga poin dan dalam jangka waktu yang pendek. Sehingga lebih mudah dan ringan memantau pelaksanaannya.

5.

Merasa mampu untuk menyelesaikan semua masalah sendiri

Ini sebenarnya terkadang saya merasa dapat menyelesaikan semua masalah yang saya hadapi tanpa bantuan orang lain. Setelah saya telaah diri saya, terkadang rasa ini muncul karena sebagai kepala sekolah tidak ingin terlihat tidak mampu dihadapan timnya. Padahal kita tidak perlu membatasi hal tersebut, tidak perlu sibuk mencitrakan diri baik-baik saja, namun sebenarnya sedang merasa kesepian dan kesulitan dalam kesendirian. Maka langkah yang saya ambil adalah memulai membuka diri, bercerita dan meminta saran dan masukan dari orang-orang terdekat. Seperti: ketua yayasan, rekan sejawat, keluarga dan lingkungan lainnya yang dirasa mampu untuk menumbuhkan semangat melakukan perbaikan.


    Kesadaran diri akan kebutuhan melakukan refleksi membuat saya lebih mampu untuk memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan sebuah perubahan baik dalam diri. Kuncinya adalah mau atau tidak melakukan perubahan itu. Setelah melakukan refleksi besar-besaran, langkah selanjutnya adalah menjaga konsistensi diri, karena sebenarnya sebagai seorang pemimpin sebelum mendisiplinkan timnya, terlebih dahulu pemimpin mendisiplinkan dirinya. Saya sering menyebutnya dengan swadisiplin, swadisiplin saya disini yaitu dengan menjaga konsistensi diri melakukan perbaikan yang sudah saya tentukan sendiri. Apapun tantangannya menjadi seorang pemimpin, sebenarnya disitulah proses belajar yang sesungguhnya menjadi seorang pemimpin yang paham dengan apa yang dilakukannya. Sehingga terwujudlah harapan menjadi pemimpin yang lebih baik setiap harinya.


Ingin tahu lebih banyak tentang karya guru lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini

Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini

 

REFLEKSI KARYA GURU-PUISI BUMI KITA (BU NISA GURU KELAS 4 SD)

Bumi Kita

Zakiyatun Nisa, Guru Kelas 4 SD

 

Maret Berkabung

Cerita tentang alam dan bertahan hidup

Cerita tentang sua yang tak jumpa

Cerita tentang dekat yang tak mampu mendekat

Cerita tentang temu yang tak kunjung ada waktu

Semua berubah tentang salam, sapa dan jabat erat

 

Hati terguncang dan meradang

Ada ketakutan yang tak mampu hengkang

Kegelisahan menyusup dalam sendi-sendi raga bagai ilalang yang bergoyang

Rumah-rumah yang ramah dulu terbuka lebar

Kini mulai tak terlihat dan tak ada kabar

Tawa dan senyum setiap insan yang melebar merekah

Kini hanya bisa terkesan dalam debar tertutup cadar

 

Bumiku…

Apakah kau terlihat sendu diujung pilu?

Melihat manusia-manusia yang tak tampak telah berlalu

Ataukah kau merasa kaku dengan suasana yang telah baru

Tersiar kabar dari ujung awan bertaut dari kawan ke kawan

Kematian dan kehilangan seakan menjadi sajian rutinan

 

Oh… ternyata bumi semakin tua dan gersang

Menghempas sakit yang melanda ke semua penjuru dunia

Benar-benar bukan sebuah halusinasi atau imaji belaka

Kesedihan ini sangatlah nyata dan terasa

Hanya orang-orang congkak dan pongah

Yang menganggap luka bumi ini adalah konspirasi

 

Bumi dan seisinya seakan dibuat bingung dan kalang kabut

Kehidupan seakan menyesakkan dada menjerat luka

Tersisa dua pilihan mengalah atau bertahan

Ketika diri mengalah pada keadaan, jiwa akan terjerat dengan sumpah serapah

Ketika diri melangkah untuk bertahan dengan perubahan semesta,  jiwa dan raga berdaya

 

Cukup sudah menyalahkan dan tak percaya

Ingatlah kita semua berpijak pada bumi pertiwi

Sekian abad telah berjuang dengan segala peradaban

Sekarang saatnya pula kita bertahan untuk berjuang

 

Mengukir kisah di situasi yang melelahkan

Namun kita tak boleh lengah sekalipun

Kita masih tetap harus bersinar ditengah pelita

Ingat cita-cita dan harapan mulia di ujung perjalanan ini

Saatnya untuk dapat berdiri tegak mengulurkan tangan dan saling berpegangan melalui keterikatan tanpa sentuhan

 

Percayalah… perlahan dan penuh kepastian badai ini akan berlalu

Layaknya angin yang berhembus ke sekian hulu

Bumi kita bumi pertiwi Indonesia

Menatap tajam menanti tanpa henti

Asa dan karya dari para penerus bangsa

 

 


Sarang dikala hujan, 15 Desember 2020


Ingin tahu lebih banyak tentang karya guru lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini

Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini