Membangun lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya pribadi Berintegritas, Merdeka Belajar, dan Kolaboratif.
Selasa, 01 Juni 2021
SAYANGI KELUARGA ( KELUARGA AISYAH - KELAS TK A )
Belajar Disiplin Dari Hal Kecil (Nuriyah Elviyana, Guru KB Islam Umar Harun)

Belajar Disiplin Dari Hal Kecil
(Nuriyah Elviyana, Guru KB Islam Umar Harun)
Menjadi orangtua atau guru yang mendampingi anak, tentunya tidak mudah, ditambah lagi ekspektasi tinggi yang melatar belakangi berbanding jauh dengan perkembangan anak, tentunya bikin kesal di hati. Disini saya akan bercerita tentang mengajak anak untuk belajar disiplin dengan cara sederhana yaitu dengan menaruh barang pada tempatnya. Cerita ini bermula pada masa awal pembelajaran, banyak anak-anak yang memperlihatkan sifat yang ingin di perhatikan, seperti selalu menyuruh ketika ingin mengambil sesuatu, belum siap ketika diarahkan untuk merapikan mainan, atau mengembalikan barang ke tempatnya. Ketika guru mengingatkan dan mengarahkan mereka langsung menghindar dan tidak menghiraukan guru, efeknya pun beragam, sandal hilang karena tidak ditaruh pada tempatnya, kotak makan tertinggal, kerudung tertinggal, dan masih banyak lagi. Dari sini guru merasa masih galau atau bingung Karena pasti orang tua akan menanyakan barang-barang yang dibawa anak dari rumah, gurupun merasa mempertanggung jawabkan ke orangtua. Sempat berpikir, kalau mereka dibiarkan untuk tetap di perhatikan akan kurang bagus untuk perkembangannya ke depan. Melihat tahapan perkembangannya yang mana (anak sudah mampu menerima informasi yang telah disampaikan sebelumnya), jadi semakin tergerak untuk memberikan stimulus agar disiplin dan mandiri.
Dalam aksinya, saya menggali latar belakang kepengasuhan orangtuanya, apakah di rumah sudah terbiasa mandiri, atau terbiasa di perhatikan. Selanjutnya, berkomunikasi dengan orangtua untuk membuat kesepakatan, bahwasannya anak mampu diberi kepercayaan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, jadi orangtua harus sepakat menahan diri untuk langsung membantu pekerjaan anak, misalnya ambil minum sendiri, makan sendiri, membereskan mainan, mengenali barang-barangnya, dll. Setelah orangtua sepakat kami mengajak anak-anak untuk berefleksi, betapa pentingnya menaruh barang pada tempatnya, seperti menaruh sandal pada tempatnya, menaruh kotak makan sehabis digunakan, menaruh mainan, dll, dalam refleksi nya kita kenalkan ke anak-anak apa akibatnya kalau kita tidak menaruh barang pada tempatnya, misalnya sandal, kalau tidak ditaruh pada tempatnya akan hilang, rusak karena terinjak, ajak anak-anak untuk mengenali efek atau akibat tidak disiplin untuk menaruh barang pada tempatnya secara logis, maksudnya alasannya harus benar-benar sesuai, bukan seperti, kalau tidak menaruh sandal di rak tidak dibelikan sandal baru misalnya, itu adalah contoh yang tidak logis.
Setelah refleksi dari kejadian tidak menaruh barang pada tempatnya, saya mengajak anak untuk membuat kesepakatan, yang isinya kalau ada barang yang hilang karena tidak di taruh pada tempatnya, maka anak harus mencarinya, dalam pembuatan kesepakatan ini tentunya saya sebagai guru, mengarahkan anak untuk berpikir dalam pembuatan kesepakatan bersama. Prakteknya, meski di awal awal masih butuh arahan, penguatan, diingatkan, tapi alhamdulillah sekarang anak-anak sudah terbiasa dengan kebiasan itu yaitu disiplin dengan menaruh barang pada tempatnya. Terima kasih



LIMA JENIS PLASTIK UMUM YANG PERLU KAMU KETAHUI ( PAK UMAM GURU KB B )
MENYUSUN KESEPAKATAN BELAJAR UNTUK MENUMBUHKAN SWADISIPLIN DIRI (Ilvia guru TK B)
MENYUSUN KESEPAKATAN BELAJAR
UNTUK MENUMBUHKAN SWADISIPLIN DIRI
Oleh: Ilvia Mabrurotin- TK B Islam Umar Harun.
Tahun ini saya dan tiga teman guru yang lain berkesempatan untuk mendampingi proses belajar anak-anak kelas TK B Islam Umar Harun Sarang-Rembang. Selama setahun belajar bersama mereka, banyak sekali keseruan yang saya rasakan. Disamping itu, pernah juga saya merasakan geram ketika melihat mereka melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan kesepakatan kelas yang sudah dibuat. Beberapa kali mereka bergurau saat kegiatan diskusi berlangsung, terkadang mereka juga masih asyik bermain hingga tidak memerhatikan waktu dan tempat. Sering kali kami memulai kegiatan mundur dari waktu yang sudah disepakati. Hingga akhirnya pulang terlambat pun pernah kami alami.
Beberapa anak terlihat kesal dan badmood saat memulai kegiatan mundur dari waktu yang sudah disepakati. Selain itu, beberapa anak juga ada yang mengeluh dan berkata, “Bu, kapan to kegiatannya dimulai?”, “Bu, ayo istirahat”, Bu, kita pulangnya kok terlambat terus to. Sudah banyak yang dijemput itu lo Bu”. Melihat hal tersebut sebenarnya anak-anak juga tidak nyaman dengan kondisi yang seperti ini.
Dari ucapan-ucapan tersebut, sebenarnya apa yang diinginkan oleh anak dan guru adalah sama, yaitu melakukan sebuah aktivitas sesuai waktu yang disepakati bersama. Sadar akan keadaan seperti itu, saya pribadi dan tim guru TK B mulai melakukan refeksi diri. Kami mencoba merefleksikan cara yang pernah kami lakukan dan memetakan apa yang menjadi kesukaan dan kebutuhan anak-anak. Kami juga mencoba merefleksikan kesepakatan kelas yang pernah kami buat dengan meminta pendapat dari anak-anak, apakah kesepakatan yang telah dibuat masih relevan untuk dilakukan saat ini atau perlu untuk diperbarui.
Secara umum anak-anak kelas TK B sudah bisa dilibatkan berdiskusi dalam membangun kesepakatan kelas. Diusia 5-6 tahun ini, mereka juga mulai bisa diajak untuk membangun kesepakatan terkait dinamika kelompok diantara teman sebaya dengan pendampingan guru kelas. Melalui peristiwa berkelompok akan membantu mereka untuk mengembangkan kamampuan afeksinya yang kesemua itu bisa menjadi cikal bakal terbentuknya kesepakatan.
Membangun kesepakatan tidak selalu berjalan mulus. Sesekali atau bahkan berulang kali prosesnya berujung pada “pelanggaran”. Dalam hal ini kami menghindari memproses konflik dan ketaksepakatan dengan pendekatan hukuman, mencari siapa yang bersalah dan siapa yang harus di hukum. Pengelolaan konflik selalu berpihak pada daur belajar, bahwa setiap peristiwa bisa menjadi proses belajar. Maka ketika seorang anak berani berkata jujur dan mengakui kesalahannya, itu merupakan sebuah hadiah istimewa dari pelanggaran yang terjadi, dan bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran. Hadiah seperti itu jauh lebih mahal harganya dibanding kemauan untuk bersepakat. Sebab, ketika anak mengungkapkan apa yang sebenarnya akan memberi pemahaman kepada anak tentang kejujuran dan tanggung jawab. Harapannya akan terbangun swadisiplin pada diri anak, yaitu disiplin yang lahir dari inisiatif atau kesadaran sendiri, bukan disiplin karena takut atau tertekan.
Menumbuhkan konsistensi untuk tetap menaati kesepakatan merupakan tantangan tersendiri bagi anak- anak tertentu, lebih- lebih bagi anak- anak kelas TK B yang masih berusia 5- 6 tahun. Di kelas TK B ketaksepakatan yang paling sering terjadi adalah terkait waktu untuk memulai kegiatan, baik pada pagi hari maupun saat setelah istirahat. Di sekolah kami tidak ada bel sebagai tanda mulai atau mengakhiri kegiatan. Kondisi ini membuat anak- anak dan guru harus bisa mengatur waktunya sendiri. Semenjak pandemi, sekolah kami melakukan kegiatan belajar mengajar secara blanded learning dengan jadwal berubah-ubah menyesuaikan situasi dan kondisi. Mulai semester dua ini, pembelajaran dilakukan dengan jadwal 2 hari pembelajaran online di rumah dan 4 hari pembelajaran tatap muka di sekolah. Durasi waktu selama 5 jam dalam sehari dan selalu menaati protokol kesehatan.
Setelah satu semester membersamai proses belajar anak-anak kelas TK B, saya dan tim guru jadi tahu bagaimana gaya belajar mereka. Secara umum mereka suka sekali dengan kegiatan yang seru, tidak monoton dan kegiatan yang melibatkan fisik motorik kasar. Oleh karena itu, sering kali mereka memilih kegiatan di luar kelas. Akan tetapi, ketika sudah di luar kelas mereka biasanya terlalu asyik berkegiatan hingga akhirnya lupa waktu.
Berangkat dari hal tersebut, saya dan tim guru kelas TK B pernah mencoba sebuah cara untuk mengingatkan mereka terkait waktu kegiatan. Kami berinisiatif untuk membuat display kelas tentang urutan kegiatan di kelas dari pagi sampai siang. Kami juga melibatkan anak-anak dalam proses pembuatan display tersebut. Tujuan dari pembuatan display tersebut, selain untuk mengajarkan kepada anak-anak terkait rasa tanggung jawab terhadap waktu juga memfasilitasi mereka untuk mengenal angka dari gambar jam yang ditempel. Suatu hari saat kegiatan istirahat anak-anak memilih untuk bermain di playground. Sebelum bermain, kami mengajak mereka membuat kesepakatan waktu bermain dengan melihat display kelas tentang urutan kegiatan di kelas, sambil mengamati jam dinding. Setelah selesai diskusi, akhirnya mereka menyepakai waktu bermain di playground selama 10 menit dari jarum panjang diangka 4 sampai jarum panjang diangka 6. Setelah beberapa menit kemudian jarum panjang tepat berada diangka 6, salah satu guru segera mengingatkan mereka terkait kesepakatan bermain sambil membawa jam dinding sebagai bukti. Beberapa dari mereka sudah ada yang faham terkait waktu, sehingga memudahkan kami saat mengingatkan mereka terkait kesepakatan waktu.
Setelah kegiatan hari itu selesai, saya mencoba berefleksi lagi. Saya teringat dengan cara yang pernah saya alami dulu. Waktu itu saya membuat kesepakatan waktu dengan anak-anak. Tetapi kesepakatan itu seperti tidak berdampak. Anak-anak masih saja mengelak ketika diinggatkan. Karena waktu itu saya membuat kesepakatan waktu dengan cara berbicara saja. Tidak menghadirkan alat bantu yang dibutuhkan oleh mereka. Dari dua pengalaman ini saya menyimpulkan bahwa pelibatan anak dalam membuat kesepakatan itu penting. Selain itu, kesadaran anak saat membahas kesepakatan dan media penunjang juga patut untuk dipertimbangkan.
Menindaklanjuti hasil refleksi ini, kemudian saya dan tim guru menemukan cara agar anak-anak melakukan kegiatan sesuai dengan kesepakatan waktu yang sudah disepakati. Setiap kali hendak memulai kegiatan, kami terus mencoba untuk membuat kesepakatan waktu dengan melibatkan anak, berkomitmen bersama dan terus saling mengingatkan. Dengan mengingatkan waktu istirahat menggunakan jam dinding dan display kelas, saya rasa cara ini merupakan cara yang efektif dalam pembelajaran. Selain itu anak-anak juga bisa belajar mengenal angka dari melihat angka di jam dinding. Anak-anak juga terlihat ada perubahan, mereka jadi lebih dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Bahkan mereka juga saling mengingatkan ketika ada salah satu teman yang asyik bermain di saat waktu kegiatan sudah selesai.
Ingin tahu lebih banyak tentang karya guru lainnya, anda bisa membaca dengan klik Di sini.
Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini.
BERMAIN PERAN JUAL BAKSO ( KARIN KB B )
BEKERJASAMA MEMBANTU MENGAMBIL PUZZLE UNTUK KEGIATAN JURNAL ( HAIDAR - KB B )
TAHAPAN DAN KEMAMPUANKU MULAI USIA 3-7 BULAN ( ALZA - KELAS TPA )
TAHAPAN
DAN KEMAMPUANKU MULAI USIA 3-7BULAN
Hai
teman-teman, kenalin namaku Na’imurohman Al’Aziz aku sering disapa Alza ini
kemampuanku pada fase 3-11 bulan pada usia 3 bulan ini aku sering sekali
melakukan komunikasi juga lo melalui respon senyumanku serta pandangan mataku.
Bu guru sering mengajakku bermain dengan menggerakan benda dihadaapanku. Karna
itu membuatku senang dan membantuku untuk bisa merespon lebih mudah sesuatu
yang diucapkan oleh orang-orang didekatku.
Buguru
juga sering mengajaku bercerita dan aku senang sekali saat buguru mengajaku
berbicara, aku mencoba menirukan perkataannya dengan respon sesuai dengan
tahapanku sepertii mengucap huruf ooo dan tersenyum. Aku juga suka sekali
dengan warna-warna yang ada pada gambar atau benda yang ada disekitarku. Diusia
3 bulan ini ada
beberapa
kemampuan yang dimiliki anak seusiaku pada umumnya lo.
Seperti
pada kemampuan motorikaku mulai belajar
Menahan kepalanya dengan mantap.Ditahapanku yang sudah mencapai 4-5
bulan ini aku mulai suka menggumam hemm
hemmm
Pada
usia 4-5 bulan ini aku sudah mampu Mencoba menegakkan kepala tanpa
bantuan, aku juga hobi sekali memasukan tanganku kedalam mulut dengan mencoba
meraih-raih tangan bu guru saat bu guru menjulurkan tangan untuk menggendong.
Dengan
beberapa setimulus seperti mengambil, mencoba meraih mainan yang ada
didepannku. aku juga sudah mulai memiringkan badan hingga telungkup mataku juga sudah
berkordinasi dengan baik melihat warna-warni benda yanga ada disekitarku. Aku
juga sudah mulai asik bermain sendiri dan bahasaku sudah mulai mengikuti apa
yang diucapkan orang yang mengajak bicara denganku walau aku masih menggunakan
bahasaku
Dan kini
usiaku sudah masuk 6-7 bulan aku senang sekali. Diusia ini aku juga sudah mulai
banyak menguasai hal-hal baru yang itu membuatku penasaran ingin selalu melihat
hal-hal baru disekitarku. Aku mulai mampu duduktegaktanpabantuan
Aku juga sudah mulai mampu mengeluarkan emosiku
saat mainankesukaanku diambil dan saat orang disekitarku bermain secara tidak
nyaman aku akan melakukan penolakan.
Akju juga sudah mulai mengenali suara suara orang
didekatku jadi saat bunda ayah atau orang yang mengasuhku jauh aku akan
menangis
Aku juga sudah mampu merayap dan merangkak hehe
aku semakin aktif, bu guru biasanya memberikan setimulus mainan kesukaanku yang
berwarna warni yang ditempel didinding karna penasaranku yang mulai tinggi maka
aku akan berusaha menggapainya.
Inilah keseharianku dan kegiatanku mulai usiaku
3-7 bulan aku sangat senang sekali. Trimakasih teman-teman sudah bersedia
membaca ceritaku.
Ingin tahu lebih banyak tentang karya anak lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini.
Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini.

















