Selasa, 01 Juni 2021

MENYUSUN KESEPAKATAN BELAJAR UNTUK MENUMBUHKAN SWADISIPLIN DIRI (Ilvia guru TK B)

 


 

MENYUSUN KESEPAKATAN BELAJAR

UNTUK MENUMBUHKAN SWADISIPLIN DIRI

Oleh: Ilvia Mabrurotin- TK B Islam Umar Harun.

Tahun ini saya dan tiga teman guru yang lain berkesempatan untuk mendampingi proses belajar anak-anak kelas TK B Islam Umar Harun Sarang-Rembang. Selama setahun belajar bersama mereka, banyak sekali keseruan yang saya rasakan. Disamping itu, pernah juga saya merasakan geram ketika melihat mereka melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan kesepakatan kelas yang sudah dibuatBeberapa kali mereka bergurau saat kegiatan diskusi berlangsung, terkadang mereka juga masih asyik bermain hingga tidak memerhatikan waktu dan tempat. Sering kali kami memulai kegiatan mundur dari waktu yang sudah disepakati. Hingga akhirnya pulang terlambat pun pernah kami alami.

Beberapa anak terlihat kesal dan badmood saat memulai kegiatan mundur dari waktu yang sudah disepakati. Selain itu, beberapa anak juga ada yang mengeluh dan berkata, “Bu, kapan to kegiatannya dimulai?”, “Bu, ayo istirahat”, Bu, kita pulangnya kok terlambat terus to. Sudah banyak yang dijemput itu lo Bu”. Melihat hal tersebut sebenarnya anak-anak juga tidak nyaman dengan kondisi yang seperti ini.

Dari ucapan-ucapan tersebut, sebenarnya apa yang diinginkan oleh anak dan guru adalah sama, yaitu melakukan sebuah aktivitas sesuai waktu yang disepakati bersama. Sadar akan keadaan seperti itu, saya pribadi dan tim guru TK B mulai melakukan refeksi diri. Kami mencoba merefleksikan cara yang pernah kami lakukan dan memetakan apa yang menjadi kesukaan dan kebutuhan anak-anak. Kami juga mencoba merefleksikan kesepakatan kelas yang pernah kami buat dengan meminta pendapat dari anak-anak, apakah kesepakatan yang telah dibuat masih relevan untuk dilakukan saat ini atau perlu untuk diperbarui.

Secara umum anak-anak kelas TK B sudah bisa dilibatkan berdiskusi dalam membangun kesepakatan kelas. Diusia 5-6 tahun ini, mereka juga mulai bisa diajak untuk membangun kesepakatan terkait dinamika kelompok diantara teman sebaya dengan pendampingan guru kelas. Melalui peristiwa berkelompok akan membantu mereka untuk mengembangkan kamampuan afeksinya yang kesemua itu bisa menjadi cikal bakal terbentuknya kesepakatan.

Membangun kesepakatan tidak selalu berjalan mulus. Sesekali atau bahkan berulang kali prosesnya berujung pada “pelanggaran”. Dalam hal ini kami menghindari memproses konflik dan ketaksepakatan dengan pendekatan hukuman, mencari siapa yang bersalah dan siapa yang harus di hukum. Pengelolaan konflik selalu berpihak pada daur belajar, bahwa setiap peristiwa bisa menjadi proses belajar. Maka ketika seorang anak berani berkata jujur dan mengakui kesalahannya, itu merupakan  sebuah hadiah istimewa dari pelanggaran yang terjadi, dan bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran. Hadiah seperti itu jauh lebih mahal harganya dibanding kemauan untuk bersepakat. Sebab, ketika anak mengungkapkan apa yang sebenarnya akan memberi pemahaman kepada anak tentang kejujuran dan tanggung jawab. Harapannya akan terbangun swadisiplin pada diri anak, yaitu disiplin yang lahir dari inisiatif atau kesadaran sendiri, bukan disiplin karena takut atau tertekan.

Menumbuhkan konsistensi untuk tetap menaati kesepakatan merupakan tantangan tersendiri bagi anak- anak tertentu, lebih- lebih bagi anak- anak kelas TK B yang masih berusia 5- 6 tahun. Di kelas TK B ketaksepakatan yang paling sering terjadi adalah terkait waktu untuk memulai kegiatan, baik pada pagi hari maupun saat setelah istirahat. Di sekolah kami tidak ada bel sebagai tanda mulai atau mengakhiri kegiatan. Kondisi ini membuat anak- anak dan guru harus bisa mengatur waktunya sendiri. Semenjak pandemi, sekolah kami melakukan kegiatan belajar mengajar secara blanded learning dengan jadwal berubah-ubah menyesuaikan situasi dan kondisi. Mulai semester dua ini, pembelajaran dilakukan dengan jadwal 2 hari pembelajaran online di rumah dan 4 hari pembelajaran tatap muka di sekolah. Durasi waktu selama 5 jam dalam sehari dan selalu menaati protokol kesehatan.

Setelah satu semester membersamai proses belajar anak-anak kelas TK B, saya dan tim guru jadi tahu bagaimana gaya belajar mereka. Secara umum mereka suka sekali dengan kegiatan yang seru, tidak monoton dan kegiatan yang melibatkan fisik motorik kasar. Oleh karena itu, sering kali mereka memilih kegiatan di luar kelas. Akan tetapi, ketika sudah di luar kelas mereka biasanya terlalu asyik berkegiatan hingga akhirnya lupa waktu.


Berangkat dari hal tersebut, saya dan tim guru kelas TK B pernah mencoba sebuah cara untuk mengingatkan mereka terkait waktu kegiatan. Kami berinisiatif untuk membuat display kelas tentang urutan kegiatan di kelas dari pagi sampai siang. Kami juga melibatkan anak-anak dalam proses pembuatan display tersebut. Tujuan dari pembuatan display tersebut, selain untuk mengajarkan kepada anak-anak terkait rasa tanggung jawab terhadap waktu juga memfasilitasi mereka untuk mengenal angka dari gambar jam yang ditempel. Suatu hari saat kegiatan istirahat anak-anak memilih untuk bermain di playground. Sebelum bermain, kami mengajak mereka membuat kesepakatan waktu bermain dengan melihat display kelas tentang urutan kegiatan di kelas, sambil mengamati jam dinding. Setelah selesai diskusi, akhirnya mereka menyepakai waktu bermain di playground selama 10 menit dari jarum panjang diangka 4 sampai jarum panjang diangka 6. Setelah beberapa menit kemudian jarum panjang tepat berada diangka 6, salah satu guru segera mengingatkan mereka terkait kesepakatan bermain sambil membawa jam dinding sebagai bukti. Beberapa dari mereka sudah ada yang faham terkait waktu, sehingga memudahkan kami saat mengingatkan mereka terkait kesepakatan waktu.

 


Setelah kegiatan hari itu selesai, saya mencoba berefleksi lagi. Saya teringat dengan cara yang pernah saya alami dulu. Waktu itu saya membuat kesepakatan waktu dengan anak-anak. Tetapi kesepakatan itu seperti tidak berdampak. Anak-anak masih saja mengelak ketika diinggatkan. Karena waktu itu saya membuat kesepakatan waktu dengan cara berbicara saja. Tidak menghadirkan alat bantu yang dibutuhkan oleh mereka. Dari dua pengalaman ini saya menyimpulkan bahwa pelibatan anak dalam membuat kesepakatan itu penting. Selain itu, kesadaran anak saat membahas kesepakatan dan media penunjang juga patut untuk dipertimbangkan.

Menindaklanjuti hasil refleksi ini, kemudian saya dan tim guru menemukan cara agar anak-anak melakukan kegiatan sesuai dengan kesepakatan waktu yang sudah disepakati. Setiap kali hendak memulai kegiatan, kami terus mencoba untuk membuat kesepakatan waktu dengan melibatkan anak, berkomitmen bersama dan terus saling mengingatkan. Dengan mengingatkan waktu istirahat menggunakan jam dinding dan display kelas, saya rasa cara ini merupakan cara yang efektif dalam pembelajaran. Selain itu anak-anak juga bisa belajar mengenal angka dari melihat angka di jam dinding. Anak-anak juga terlihat ada perubahan, mereka jadi lebih dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Bahkan mereka juga saling mengingatkan ketika ada salah satu teman yang asyik bermain di saat waktu kegiatan sudah selesai. 


        Ingin tahu lebih banyak tentang karya guru lainnya, anda bisa membaca dengan klik Di sini.

    Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini.


JURNALKU MENGGAMBAR ( OKTA KB B )





    Ingin tahu lebih banyak tentang karya anak lainnya, anda bisa membaca dengan klik Di sini.


    Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini.



BERMAIN PERAN JUAL BAKSO ( KARIN KB B )

 





    Ingin tahu lebih banyak tentang karya anak lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini.


    Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini.

BEKERJASAMA MEMBANTU MENGAMBIL PUZZLE UNTUK KEGIATAN JURNAL ( HAIDAR - KB B )

 






    Ingin tahu lebih banyak tentang karya anak lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini.

    Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini.

TAHAPAN DAN KEMAMPUANKU MULAI USIA 3-7 BULAN ( ALZA - KELAS TPA )

 



TAHAPAN DAN KEMAMPUANKU MULAI USIA 3-7BULAN

Hai teman-teman, kenalin namaku Na’imurohman Al’Aziz aku sering disapa Alza ini kemampuanku pada fase 3-11 bulan pada usia 3 bulan ini aku sering sekali melakukan komunikasi juga lo melalui respon senyumanku serta pandangan mataku. Bu guru sering mengajakku bermain dengan menggerakan benda dihadaapanku. Karna itu membuatku senang dan membantuku untuk bisa merespon lebih mudah sesuatu yang diucapkan oleh orang-orang didekatku. 

Buguru juga sering mengajaku bercerita dan aku senang sekali saat buguru mengajaku berbicara, aku mencoba menirukan perkataannya dengan respon sesuai dengan tahapanku sepertii mengucap huruf ooo dan tersenyum. Aku juga suka sekali dengan warna-warna yang ada pada gambar atau benda yang ada disekitarku. Diusia 3 bulan ini ada


beberapa kemampuan yang dimiliki anak seusiaku pada umumnya lo.

Seperti pada kemampuan motorikaku mulai belajar Menahan kepalanya dengan mantap.Ditahapanku yang sudah mencapai 4-5 bulan ini aku mulai suka menggumam  hemm hemmm


Pada usia 4-5 bulan ini aku sudah mampu Mencoba menegakkan kepala tanpa bantuan, aku juga hobi sekali memasukan tanganku kedalam mulut dengan mencoba meraih-raih tangan bu guru saat bu guru menjulurkan tangan untuk menggendong.


Dengan beberapa setimulus seperti mengambil, mencoba meraih mainan yang ada didepannku. aku juga sudah mulai memiringkan badan  hingga telungkup mataku juga sudah berkordinasi dengan baik melihat warna-warni benda yanga ada disekitarku. Aku juga sudah mulai asik bermain sendiri dan bahasaku sudah mulai mengikuti apa yang diucapkan orang yang mengajak bicara denganku walau aku masih menggunakan bahasaku


 

Dan kini usiaku sudah masuk 6-7 bulan aku senang sekali. Diusia ini aku juga sudah mulai banyak menguasai hal-hal baru yang itu membuatku penasaran ingin selalu melihat hal-hal baru disekitarku. Aku mulai mampu duduktegaktanpabantuan


Aku juga sudah mulai mampu mengeluarkan emosiku saat mainankesukaanku diambil dan saat orang disekitarku bermain secara tidak nyaman aku akan melakukan penolakan.


Akju juga sudah mulai mengenali suara suara orang didekatku jadi saat bunda ayah atau orang yang mengasuhku jauh aku akan menangis


Aku juga sudah mampu merayap dan merangkak hehe aku semakin aktif, bu guru biasanya memberikan setimulus mainan kesukaanku yang berwarna warni yang ditempel didinding karna penasaranku yang mulai tinggi maka aku akan berusaha menggapainya.


Inilah keseharianku dan kegiatanku mulai usiaku 3-7 bulan aku sangat senang sekali. Trimakasih teman-teman sudah bersedia membaca ceritaku.

 

    Ingin tahu lebih banyak tentang karya anak lain, anda bisa membaca dengan klik Di sini.

    Mau tahu lebih detail tentang Sekolah Islam Umar Harun, anda bisa membuka dan membaca profil Di sini.

Minggu, 07 Februari 2021

PROFIL SEKOLAH ISLAM UMAR HARUN - SARANG REMBANG

 


PROFIL SEKOLAH ISLAM UMAR HARUN

VISI 

Membangun lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya pribadi Berintegritas,

Merdeka Belajar, dan Kolaboratif.

 MISI

1. Memanusiakan Hubungan

   Praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada murid berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, murid, dan orang tua.

2. Memahami Konsep

    Praktik pembelajaran yang memandu murid bukan sekedar menguasai konten, tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di beragam konteks.

3. Memilih Tantangan

   Praktik pembelajaran yang memandu murid menguasai keahlian melalui proses yang berjenjang dengan pilihan tantangan yang bermakna.

4. Memberdayakan Konteks

    Praktik pembelajaran yang memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas sekitar sebagai sumber belajar sekaligus kesempatan berkontribusi tehadap perubahan.

5. Membangun Keberlanjutan

    Praktik pembelajaran yang memandu murid mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui umpan balik dan praktik baik.


METODE PEMBELAJARAN

  Sekolah Islam Umar Harun menggunakan metode pembelajaran Blended Learning yaitu pembelajaran berbasis riset yang dilaksanakan di sekolah dan di rumah dengan pendampingan serta kerjasama dari guru dan orang tua. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menggunakan prinsip Merdeka Belajar, yaitu:

    - Komitmen pada Tujuan

    - Mandiri dalam menentukan Cara

    - Siap melakukan Refleksi


METODE PENILAIAN

  Sekolah Islam Umar Harun menerapkan metode penilaian otentik dengan menggunakan prinsip:

   1. Ipsative, yaitu penilaian capaian murid dilakukan dengan menganalisa kompetensi awal murid dibandingkan dengan kompetensi murid tersebut setelah proses pembelajaran. Capaian seorang murid tidak dibandingkan dengan murid lain, namun dengan dirinya sendiri. Dengan demikian, Sekolah Islam Umar Harun tidak menggunakan sistem ranking.

    2. Berorientasi pada proses, tidak sekedar hasil akhir.

    3. Komprehensif, mencakup ranah afekti (sikap), psikomotorik (keterampilan), dan kognitif (pengetahuan).


JADWAL PEMBELAJARAN

   Jadwal pembelajaran Sekolah Islam Umar Harun menggunakan sistem blanded learning atau pembelajaran campuran, yaitu pembelajaran yang terintegrasi dengan kegiatan anak di rumah. 

Jam Belajar Di Sekolah :

    1. TPA (Khusus anak dari guru Sekolah Islam Umar Harun) : 08.00 - 12.00 WIB

    2. KB A dan KB B : 08.00 - 11.00 WIB

    3. TK A dan TK B : 08.00 - 12.00 WIB

    4. SD : 08.00 - 12.00 WIB

     

BIAYA PENDIDIKAN

    1)    Biaya Pendaftaran 

           a. PAUD (TPA, KB, TK) : Rp. 1.947.000,- dengan rincian sebagai berikut :

               -       Pendaftaran                : Rp. 50.000,-

               -       Daftar Ulang               : Rp. 30.000,-

               -       Uang Pangkal             : Rp. 1.500.000,-

               -       SPP Bulan Juli 2021    : Rp. 300.000.-

               -       Buku KK                      : Rp. 67.000,-

           b. SD : Rp. 3.447.000,- dengan rincian sebagai berikut :

               -       Pendaftaran               : Rp. 50.000,-

               -       Daftar Ulang              : Rp. 30.000,-

               -       Uang Pangkal            : Rp. 3.000.000,-

               -       SPP Bulan Juli 2021   : Rp. 300.000.-

               -       Buku KK                     : Rp. 67.000,-

          Biaya Pendaftaran dibayarkan melalui transfer ke :
          Rekening                : Giro BRI
          Atas Nama             : Yayasan Umar Harun
          Nomor Rekening    : 603301000108302

    2)   Biaya Bulanan: 

               -       SPP                           : Rp. 300.000,-

    3)   Biaya Tahunan

               -       Daftar Ulang              : Rp. 30.000,-


RAGAM KEGIATAN

   Sekolah Islam Umar Harun menyelenggarakan layanan belajar bagi semua orang yang terlibat di dalamnya, baik murid, guru, karyawan, orang tua maupun yayasan pengelola, melalui beragam aktivitas antara lain:

1. Pembelajaran Berbasis Riset

  Sekolah Islam Umar Harun menyelenggarakan pembelajaran dengan berbasis riset. Murid diajak mengamati, meneliti dan belajar secara langsung dari lingkungan sekitar serta ragam peristiwa sehari-hari melalui siklus Daur Belajar, yaitu; melakukan, mengungkapkan data, menganalisa, menyimpulkan, dan menerapkan. 

  Dengan pendampingan guru dan orang tua, murid terlibat secara langsung dalam program riset ini. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga presentasi. Murid juga diberi kesempatan untuk melakukan evaluasi, refleksi dan perbaikan. 

(Dok. Riset PAUD - Mengamati Hewan Sekitar)

(Dok. Riset SD Membuat Stik Bawang)

(Dok. Riset SD - Presentasi Karya dari Kardus)

 2. Program Kolaborasi 

   Selain program pembelajaran yang dirancang dan dilakukan secara mandiri, Sekolah Islam Umar Harun juga mengadakan program pembelajaran berkolaborasi dengan sekolah lain. Program kolaborasi yang telah dilakukan antara lain:

      1.  Kolaborasi TPA Umar Harun dengan Sekolah Rumah Main Cikal, Cilandak

      2.  Kolaborasi KB B Umar Harun dengan Sekolah Rumah Main Cikal, Cilandak

      3.  Kolaborasi TK A Umar Harun dengan Sekolah Rumah Main Cikal, Cilandak

      4.  Kolaborasi TK B Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Rumah Main Cikal, Surabaya

      5.  Kolaborasi 1 SD Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Cikal Year 1, Serpong

      6.  Kolaborasi 2 SD Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Cikal Year 2, Serpong 

      7.  Kolaborasi 3 SD Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Cikal Year 3, Serpong

      8.  Kolaborasi 3 SD Umar Harun berkolaborasi dengan SD YPJ Kuala Kencana, Papua

      9.  Kolaborasi 4 SD Umar Harun berkolaborasi dengan Sekolah Cikal Year 4, Serpong

(Dok. Kolaborasi Kelas TK A dengan Sekolah Cikal, Cilandak)

(Dok. Kolaborasi Kelas 3 SD Umar Harun
dengan SD YPJ Kuala Kencana, Papua)


2. Temu Pendidik Sekolah (TPS)

    Temu Pendidik Sekolah merupakan program belajar bagi guru di internal lingkungan sekolah. Program ini diadakan 2 kali dalam seminggu, yaitu hari Sabtu dan Minggu. Di TPS ini, guru diberi kesempatan untuk saling belajar dan berbagi praktik baik pembelajaran.

(Dok. Kegiatan TPS di Sekolah Islam Umar Harun)


3. Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) dan Jaringan Sekolah Madrasah Belajar (JSMB)

    Saat ini, Sekolah Islam Umar Harun berjejaring dan menjadi penggerak di KGBN dan JSMB. Guru-guru mendapatkan kesempatan belajar yang luas di komunitas dan jaringan tersebut. Beberapa program belajar yang rutin diikuti antara lain:

      1. Temu Pendidik Daerah (TPD) 

          Program belajar antar guru se-Kabupaten, baik secara daring ataupun luring.

      2. Temu Pendidik Live (TPL)

          Program belajar mingguan antar guru se-Nusantara secara daring.

      3. Temu Pendidik Nusantara (TPN)

          Program belajar antar guru se-Nusantara, baik secara daring ataupun luring.

(Dok. Saat menjadi Pembicara di TPN 2019)

(Dok. Sesi belajar bersama Menteri Pendidikan Nadiem Makarim
dan Najeela Shihab - TPN 2019)

(Dok. TPN 2020 Saat Pandemi)
(Dok. Menjadi Pembicara Live di TPN 2020)

   4. Obrolan Guru Merdeka Belajar (OGMB) dan Obrolan Pemimpin Merdeka Belajar (OPMB)

     Diskusi pendidikan secara daring dengan beragam narasumber yang memiliki perhatian pada pendidikan yang merdeka belajar.


4. Sesi Rangkul / Kelas Orang tua

    Sekolah Islam Umar Harun juga berjejaring dengan yayasan Keluarga Kita dan menjadi relawan Keluarga Kita untuk wilayah kabupaten Rembang. Relawan Keluarga Kita atau yang sering disingkat dengan istilah "Rangkul" mengadakan berbagai sesi belajar bersama baik secara daring maupun luring. Sesi Rangkul ini merupakan wadah bagi orang tua untuk bersama-sama belajar dan berbagi pengalaman serta pengetahuan tentang kepengasuhan dan pendidikan keluarga. Karena sejatinya kepangasuhan adalah urusan bersama dan tidak ada orang tua yang sempurna. 

(Dok. Kegiatan Sesi Rangkul)


PROFIL GURU

    Sekolah Islam Umar Harun memiliki 34 tenaga pengajar. Setiap kelas didampingi oleh 3 atau 4 guru fasilitator. Hampir semua guru telah mengikuti pelatihan GMB (Guru Merdeka Belajar) yang diadakan oleh Yayasan Guru Belajar bekerjasama dengan Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar Guru Nusantara. 

    Selain melakukan tugas utama sebagai guru fasilitator mendampingi proses belajar murid, Sekolah Islam Umar Harun mendukung dan memberi kesempatan yang luas bagi para guru untuk merintis dan mengembangkan karir proteannya. Beberapa guru telah mengembangkan diri menjadi guru pembicara, guru penulis, guru pengembang kurikulum, guru promotor, guru pelatih, guru pembuat konten, guru pembuat desain komunikasi visual, guru pembuat media belajar, dan lain-lain. 

    Beberapa karya yang telah dihasilkan oleh para guru antara lain; buku referensi belajar, tulisan praktik baik pembelajaran yang dimuat dalam Surat Kabar Guru Belajar, antologi cerpen, antologi puisi, antologi cergam, antologi karya ilmiah, board game, video pembelajaran, flash card, dan lainnya.

    Adapun pelatihan yang sudah diikuti oleh guru, antara lain; 

    1. Pelatihan Metode Baca al-Qur'an "Ummi"

    2. Pelatihan Metode Sentra dan magang di Sekolah Batutis Al-Ilmi, Bekasi

    3. Pelatihan Karakter Positif bersama Matahati Care Center, Malang

    4. Pelatihan Guardian Angel Multiple Intelegences bersama Next Edu, Surabaya

    5. Pelatihan dan magang di SD Semai, Jepara

    6. Seminar Disleksia, di Semarang

    7. Workshop dan magang di sekolah-sekolah dalam jaringan Gerakan Sekolah Menyenangkan, Yogyakarta

    8. Pelatihan Guru Merdeka Belajar, Kampus Guru Cikal

    9. Workshop di Early Childhood Care and Development - Resource Center, Yogyakarta

    10. Pelatihan dan magang di Sekolah Tumbuh 3, Yogyakarta

    11. Pelatihan Kurikulum Merdeka di Sanggar Anak Alam, Yogyakarta

    12. Magang di Sanggar Anak Alam, Yogyakarta

    13. Pelatihan Riset dan Daur Belajar bersama mbak Tyas, Fasilitator Sanggar Anak Alam, Yogyakarta

    14. Pelatihan Menulis bersama mbak Tyas, Fasilitator Sanggar Anak Alam, Yogyakarta

    15. Pelatihan Matematika bersama Magis (Matematika Logis) 

    16. Pelatihan Matematika bersama Gernas Tastaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika)


CONTOH KARYA TULIS MURID, GURU, DAN ORANG TUA

1. Karya Murid : 

- Laporan Riset Tanaman Obat

https://sekolahislamumarharun.blogspot.com/2020/06/laporan-riset-tanaman-obat-afaf-kelas-3.html

- Laporan Riset "Sejarah Sunan Bejagung Kidul-Tuban" 

2. Karya Guru : 

- The Power Of "Kesepakatan"

https://sekolahislamumarharun.blogspot.com/2020/10/the-power-of-kesepakatan.html

3. Karya Orang Tua : 

- Belajar Mengelola Emosi Mulai Dari Diri Sendiri

https://sekolahislamumarharun.blogspot.com/2020/10/belajar-mengelola-emosi-mulai-dari-diri.html





Selasa, 03 November 2020

BEKERJASAMA MENJADI FASILITATOR ANAK BERSAMA ORANG TUA SEBELUM PANDEMI


BEKERJASAMA MENJADI FASILITATOR ANAK BERSAMA ORANG TUA SEBELUM PANDEMI

Oleh : Siti Rodliyah (Guru Kelas 1 SD)

 

Di masa pandemi ini banyak sekali cerita tentang betapa pentingnya kerja sama orang tua dalam pembelajaran anak. Ya, karena memang itu butuh. Sebagian guru yang belum terbiasa berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang tua pun mungkin butuh lebih adaptasi. 


Sebelum berita pandemi di Indonesia tersiarkan luas, pada bulan Februari sampai awal Maret 2020, saya dan tim kelas punya pengalaman pembelajaran di kelas 2 SD dalam melibatkan orang tua menjadi fasilitator riset anak saat itu.  


Saya ingin menceritakan pengalaman ini, karena menurut saya ini cukup mengesankan dan  semoga menjadi pengalaman berharga dan bermakna untuk perjalanan selanjutnya. Jadi  ceritanya begini, awal semester 2 tahun ajaran 2019/2020, anak-anak kelas 2 SD sudah  matang ingin riset seputar hewan. Hal itu berangkat dari keingintahuan mereka tentang  hewan-hewan. Kemudian untuk memfasilitasi belajar anak, seperti biasa kami tim guru dan  anak-anak merencanakan riset yang bertema hewan. Masing-masing anak punya latar  belakang masalah untuk meneliti satu jenis hewan. Seperti riset tentang jenis ular dan  habitatnya yang berangkat dari anak pernah mendengar berita ular masuk rumah, riset  tentang kura-kura dan perkembangbiakannya yang berangkat dari keingintahuan anak atas  hewan peliharaannya, riset tentang jenis tikus dan kehidupannya yang berangkat dari  masalah di rumah yang sering ada tikus, dan lain-lain. 


Awal proses belajar tersebut belum banyak melibatkan orang tua sebagai fasilitator. Karena  sebagian besar proses itu ter fasilitasi di sekolah bersama guru. Dulu mungkin ada semacam  misi rumah yang sedikit banyak orang tua terlibat mendampingi. Namun itu tak sering.  Kemudian, saat ditahap mencari data tentang hewan-hewan yang mereka teliti, ada beberapa  anak yang mengusulkan untuk mengamati dan mencari tahu tentang hewan di kebun  binatang. Dengan berbagai pertimbangan, kami diskusikan usulan itu bersama satu kelas. Dan  mayoritas dari mereka setuju.  



Sebelum itu, kami mengajak anak-anak untuk berpikir tentang perencanaan ke kebun  binatang. Seperti apa tujuan ke sana dan apa saja yang perlu dipersiapkan. Tujuannya jelas,  anak-anak akan mencari data tentang hewan-hewan. Proses persiapan ke kebun binatang  pun tak sebentar. Kami berdiskusi tentang kebun binatang mana yang akan dikunjungi, kapan mengunjunginya, biaya masuk, transport, dan lain-lain. Setelah segala hal yang perlu  dipersiapkan tersebut kami konsultasikan ke yayasan. Kami mendapat masukan untuk  melibatkan orang tua menindaklanjuti usulan anak-anak ke kebun binatang.


Kami akhirnya mencoba mengomunikasikan rencana ini kepada orang tua dengan musyawarah di sekolah. Respon orang tua banyak yang mendukung dan siap bekerja sama untuk melaksanakan pencarian data riset anak-anak ke kebun binatang.


Setelah diskusi awal bersama orang tua, akhirnya dari ketiga belah pihak, kami guru, anak,  dan orang tua bermusyawarah lagi tentang kebun binatang mana yang akan dikunjungi  dengan pertimbangan jenis hewan yang diamati anak-anak. Setelah kami musyawarah dan menyepakati bersama tempatnya, kemudian kami lanjut untuk membentuk panitia agenda  berkunjung ke kebun binatang Maharani, Lamongan ( Maharani Zoo). Saat kegiatan ini pun,  anak-anak belajar tentang makna Pancasila sila ke -4 tentang makna dan pentingnya  musyawarah.  

Guru dan orang tua berbagi tugas dalam kepanitiaan. Mulai dari ketua panitia, bendahara (mengatur alokasi uang khas anak-anak yang akan digunakan untuk pembiayaan ke Maharani Zoo), panitia yang mengurusi transport dan makanan, sampai penentuan Schedule kegiatan  di Maharani Zoo.




 

Orang tua tidak hanya terlibat menjadi panitia agenda tersebut. Tapi juga kami libatkan  menjadi pendamping anak-anak saat proses pencarian data riset di Maharani Zoo bersama  guru. Sebelum itu, tentu orang tua sudah berbicara dengan anak tentang apa saja yang akan  fokus dicari tahu sesuai riset masing-masing anak. 

Dari proses itu, orang tua banyak yang berdiskusi dengan anak tentang tahapan riset dan ikut  berpartisipasi dalam pelaksanaan pencarian data anak.  

Setelah hari di mana kami berkunjung ke Maharani Zoo, tepat tanggal 12 Maret 2020 ( tepat  sebelum PJJ diberlakukan), orang tua dan guru bekerja sama mendampingi anak-anak  mengamati hewan, membaca informasi, wawancara dengan tour guide, mendokumentasikan perjalanan anak-anak, hingga proses mencatat informasi yang didapat anak-anak. 




 

Banyak dari orang tua kelas 2 SD yang berperan aktif. Dan sungguh, pengalaman ini sangat  berharga buat bekal kami yang kemudian pembelajaran dialihkan di rumah karena pandemi  covid-19.

Kurang lebih begitulah pengalaman saya dan tim guru kelas 2 tahun ajaran lalu dalam bekerja  sama dengan orang tua menjadi fasilitator pembelajaran anak. 



  

BELAJAR DARI PENGALAMAN-NUMERASI

  


BELAJAR DARI PENGALAMAN-NUMERASI

Oleh : Nur Amalia Sholichah

 

Siang-29/09/2020
Waktu itu, kami guru dan anak kelas 3 SD Islam Umar Harun sedang sharing cerita tentang pengalaman membuat nugget di minggu lalu. Iya! semester ini kami sedang ada proyek riset nugget. Ada dua kelompok yang dapat giliran sharing cerita di hari ini. 

Awalnya tuh, ada satu kelompok yang sudah menceritakan proses experimennya. Kemudian disusul dengan kelompok lainnya. Proses diskusinya, saya rasa cukup hidup. Anak-anak saling tanya jawab.

Selama proses diskusi, ada cerita menarik. Ada satu anak  yang bercerita tentang lama waktu mengukus. Dia bercerita kalau awalnya mau mengukus 15 menit. Eh... setelah 15 menit berlalu ternyata adonan nuggetnya belum matang. Akhirnya, ditambahlah 15 menit lagi.
Pada saat ditanya, "Jadinya, waktu yang kamu butuhkan untuk mengukus berapa lama?" si anak dengan lantang menjawab 20 menit. Anak yang lainnya bertanya kembali, "eh... berapa?" Si anak tetap menjawab 20 dan ada suara dari anak lain yang menjawab 25.

Diskusi semakin hidup. Anak-anak berkumpul untuk memecahkan persoalan 15+15. Beberapa anak mulai mencoba menjumlahkan dengan bantuan jari. Karena jumlah jarinya tidak cukup, satu anak ada yang berinisiatif meminjam jari teman. Eh... selain itu ada juga yang menjumlahkan dengan cara bersusun. Sepertinya dia masih sedikit bingung dengan cara menjumlahkannya. 5+5=10. Si anak bingung menuliskan angka 10. Dia menulis angka 10 pas di bawah angka 5.

Di tengah anak-anak mencari cara, ada anak yang secara lantang menemukan hasil dari 15+15 yaitu 30. Kemudian ada anak lainnya yang tetap mencoba cara bersusun lagi. Ia menuliskan 0 di bawah angka 5 dan angka 1 nya ditaruh di atas (disimpan). Kemudian ketemulah jawaban 15+15=30. Anak-anak tepuk tangan mendapatkan jawaban itu. Luar biasa.

Anak yang awalnya masih bingung, sepertinya jadi tahu tentang "BAGAIMANA MENJUMLAHKAN DUA ANGKA DENGAN CARA BERSUSUN." Iya, Karena si anak terlibat dalam prosesnya. Seruuu dan bermakna....😍

Cerita dipublikasikan pertama kali di https://ceritaamalia23.blogspot.com/2020/10/belajar-dari-pengalaman-numerasi.html