Selasa, 03 November 2020

BEKERJASAMA MENJADI FASILITATOR ANAK BERSAMA ORANG TUA SEBELUM PANDEMI


BEKERJASAMA MENJADI FASILITATOR ANAK BERSAMA ORANG TUA SEBELUM PANDEMI

Oleh : Siti Rodliyah (Guru Kelas 1 SD)

 

Di masa pandemi ini banyak sekali cerita tentang betapa pentingnya kerja sama orang tua dalam pembelajaran anak. Ya, karena memang itu butuh. Sebagian guru yang belum terbiasa berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang tua pun mungkin butuh lebih adaptasi. 


Sebelum berita pandemi di Indonesia tersiarkan luas, pada bulan Februari sampai awal Maret 2020, saya dan tim kelas punya pengalaman pembelajaran di kelas 2 SD dalam melibatkan orang tua menjadi fasilitator riset anak saat itu.  


Saya ingin menceritakan pengalaman ini, karena menurut saya ini cukup mengesankan dan  semoga menjadi pengalaman berharga dan bermakna untuk perjalanan selanjutnya. Jadi  ceritanya begini, awal semester 2 tahun ajaran 2019/2020, anak-anak kelas 2 SD sudah  matang ingin riset seputar hewan. Hal itu berangkat dari keingintahuan mereka tentang  hewan-hewan. Kemudian untuk memfasilitasi belajar anak, seperti biasa kami tim guru dan  anak-anak merencanakan riset yang bertema hewan. Masing-masing anak punya latar  belakang masalah untuk meneliti satu jenis hewan. Seperti riset tentang jenis ular dan  habitatnya yang berangkat dari anak pernah mendengar berita ular masuk rumah, riset  tentang kura-kura dan perkembangbiakannya yang berangkat dari keingintahuan anak atas  hewan peliharaannya, riset tentang jenis tikus dan kehidupannya yang berangkat dari  masalah di rumah yang sering ada tikus, dan lain-lain. 


Awal proses belajar tersebut belum banyak melibatkan orang tua sebagai fasilitator. Karena  sebagian besar proses itu ter fasilitasi di sekolah bersama guru. Dulu mungkin ada semacam  misi rumah yang sedikit banyak orang tua terlibat mendampingi. Namun itu tak sering.  Kemudian, saat ditahap mencari data tentang hewan-hewan yang mereka teliti, ada beberapa  anak yang mengusulkan untuk mengamati dan mencari tahu tentang hewan di kebun  binatang. Dengan berbagai pertimbangan, kami diskusikan usulan itu bersama satu kelas. Dan  mayoritas dari mereka setuju.  



Sebelum itu, kami mengajak anak-anak untuk berpikir tentang perencanaan ke kebun  binatang. Seperti apa tujuan ke sana dan apa saja yang perlu dipersiapkan. Tujuannya jelas,  anak-anak akan mencari data tentang hewan-hewan. Proses persiapan ke kebun binatang  pun tak sebentar. Kami berdiskusi tentang kebun binatang mana yang akan dikunjungi, kapan mengunjunginya, biaya masuk, transport, dan lain-lain. Setelah segala hal yang perlu  dipersiapkan tersebut kami konsultasikan ke yayasan. Kami mendapat masukan untuk  melibatkan orang tua menindaklanjuti usulan anak-anak ke kebun binatang.


Kami akhirnya mencoba mengomunikasikan rencana ini kepada orang tua dengan musyawarah di sekolah. Respon orang tua banyak yang mendukung dan siap bekerja sama untuk melaksanakan pencarian data riset anak-anak ke kebun binatang.


Setelah diskusi awal bersama orang tua, akhirnya dari ketiga belah pihak, kami guru, anak,  dan orang tua bermusyawarah lagi tentang kebun binatang mana yang akan dikunjungi  dengan pertimbangan jenis hewan yang diamati anak-anak. Setelah kami musyawarah dan menyepakati bersama tempatnya, kemudian kami lanjut untuk membentuk panitia agenda  berkunjung ke kebun binatang Maharani, Lamongan ( Maharani Zoo). Saat kegiatan ini pun,  anak-anak belajar tentang makna Pancasila sila ke -4 tentang makna dan pentingnya  musyawarah.  

Guru dan orang tua berbagi tugas dalam kepanitiaan. Mulai dari ketua panitia, bendahara (mengatur alokasi uang khas anak-anak yang akan digunakan untuk pembiayaan ke Maharani Zoo), panitia yang mengurusi transport dan makanan, sampai penentuan Schedule kegiatan  di Maharani Zoo.




 

Orang tua tidak hanya terlibat menjadi panitia agenda tersebut. Tapi juga kami libatkan  menjadi pendamping anak-anak saat proses pencarian data riset di Maharani Zoo bersama  guru. Sebelum itu, tentu orang tua sudah berbicara dengan anak tentang apa saja yang akan  fokus dicari tahu sesuai riset masing-masing anak. 

Dari proses itu, orang tua banyak yang berdiskusi dengan anak tentang tahapan riset dan ikut  berpartisipasi dalam pelaksanaan pencarian data anak.  

Setelah hari di mana kami berkunjung ke Maharani Zoo, tepat tanggal 12 Maret 2020 ( tepat  sebelum PJJ diberlakukan), orang tua dan guru bekerja sama mendampingi anak-anak  mengamati hewan, membaca informasi, wawancara dengan tour guide, mendokumentasikan perjalanan anak-anak, hingga proses mencatat informasi yang didapat anak-anak. 




 

Banyak dari orang tua kelas 2 SD yang berperan aktif. Dan sungguh, pengalaman ini sangat  berharga buat bekal kami yang kemudian pembelajaran dialihkan di rumah karena pandemi  covid-19.

Kurang lebih begitulah pengalaman saya dan tim guru kelas 2 tahun ajaran lalu dalam bekerja  sama dengan orang tua menjadi fasilitator pembelajaran anak. 



  

BELAJAR DARI PENGALAMAN-NUMERASI

  


BELAJAR DARI PENGALAMAN-NUMERASI

Oleh : Nur Amalia Sholichah

 

Siang-29/09/2020
Waktu itu, kami guru dan anak kelas 3 SD Islam Umar Harun sedang sharing cerita tentang pengalaman membuat nugget di minggu lalu. Iya! semester ini kami sedang ada proyek riset nugget. Ada dua kelompok yang dapat giliran sharing cerita di hari ini. 

Awalnya tuh, ada satu kelompok yang sudah menceritakan proses experimennya. Kemudian disusul dengan kelompok lainnya. Proses diskusinya, saya rasa cukup hidup. Anak-anak saling tanya jawab.

Selama proses diskusi, ada cerita menarik. Ada satu anak  yang bercerita tentang lama waktu mengukus. Dia bercerita kalau awalnya mau mengukus 15 menit. Eh... setelah 15 menit berlalu ternyata adonan nuggetnya belum matang. Akhirnya, ditambahlah 15 menit lagi.
Pada saat ditanya, "Jadinya, waktu yang kamu butuhkan untuk mengukus berapa lama?" si anak dengan lantang menjawab 20 menit. Anak yang lainnya bertanya kembali, "eh... berapa?" Si anak tetap menjawab 20 dan ada suara dari anak lain yang menjawab 25.

Diskusi semakin hidup. Anak-anak berkumpul untuk memecahkan persoalan 15+15. Beberapa anak mulai mencoba menjumlahkan dengan bantuan jari. Karena jumlah jarinya tidak cukup, satu anak ada yang berinisiatif meminjam jari teman. Eh... selain itu ada juga yang menjumlahkan dengan cara bersusun. Sepertinya dia masih sedikit bingung dengan cara menjumlahkannya. 5+5=10. Si anak bingung menuliskan angka 10. Dia menulis angka 10 pas di bawah angka 5.

Di tengah anak-anak mencari cara, ada anak yang secara lantang menemukan hasil dari 15+15 yaitu 30. Kemudian ada anak lainnya yang tetap mencoba cara bersusun lagi. Ia menuliskan 0 di bawah angka 5 dan angka 1 nya ditaruh di atas (disimpan). Kemudian ketemulah jawaban 15+15=30. Anak-anak tepuk tangan mendapatkan jawaban itu. Luar biasa.

Anak yang awalnya masih bingung, sepertinya jadi tahu tentang "BAGAIMANA MENJUMLAHKAN DUA ANGKA DENGAN CARA BERSUSUN." Iya, Karena si anak terlibat dalam prosesnya. Seruuu dan bermakna....😍

Cerita dipublikasikan pertama kali di https://ceritaamalia23.blogspot.com/2020/10/belajar-dari-pengalaman-numerasi.html

 

Senin, 26 Oktober 2020

MEMAHAMI KEBUTUHAN ANAK UNTUK LITERASI BERMAKNA


MEMAHAMI KEBUTUHAN ANAK UNTUK LITERASI BERMAKNA

Oleh : Juhaini’ah – Fasilitator Kelas KB A

 

"Siapakah Aku?"

"Aku berjalan sangat lambat. Aku membawa rumahku kemanapun aku pergi. Siapakah Aku?"

Ungkapku saat membacakan buku cerita tipis berbetuk bantal kepada Mas Haidar (usia ± 2 tahun, kelas KB A Sekolah Islam Umar Harun).

"Kura-kura..." Jawab mas Haidar sambil membuka bukunya. Memastikan apakah jawabannya benar atau salah.

"Mau lanjut lagi mas Haidar?" tanyaku.

"Mau..." Jawab mas Haidar sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Aku suka berenang. Kakiku berselaput. Kwek.. kwek... kwek... Siapakah Aku?" Lanjutku membacakan ceritanya.

"Bebek...." Jawab mas Haidar lagi.

"Aku suka bergelantungan dipohon-pohon. Aku suka makan pisang. Uu...aa...uu...aa... Siapakah Aku?"

"Monyet...."

Hingga selesai membacakan bukunya sambil bermain tebak-tebakan hewan tadi, Mas Haidar terlihat sangat antusias mendengarkan. Bahkan sambil senyum-senyum saat tahu jawabannya benar.

Sebelumnya, saya sempat mendengar cerita dari orangtua Mas Haidar, kalau Mas Haidar belum begitu tertarik dengan buku. Bahkan melihat gambar di buku pun juga belum tertarik. Dia lebih suka main HP.

Di sini ibunya Mas Haidar berefleksi. Kenapa Mas Haidar sampai belum tertarik dengan buku?. Ya, karena ibunya merasa kurang memfasilitasi anak dengan buku. Ketika hendak tidur, sebetulnya Mas Haidar juga dibacakan cerita oleh orangtuanya. Namun, hanya sekedar karangan-karangan cerita yang dibuat orangtuanya sendiri. Belum pernah bercerita menggunakan buku. Sehingga sang anak belum tertarik dengan buku.

Di dalam salah satu program kami di kelas KB A, ada kegiatan "Book time". Ya, kegiatan yang membiasakan anak untuk membaca buku cerita atau medengarkan cerita. Dengan 'Tujuan Belajar' membantu mengembangkan 'Indikator Kognisi Anak' yaitu ; "Anak Menunjukkan ketertarikan pada buku, seperti: melihat gambar di buku".

Akhirnya, kami mengajak orangtua untuk mengenalkan anak dengan buku cerita. Orangtua di rumah bisa membiasakan membacakan buku cerita kepada anak setiap hendak tidur. Hal tersebut sudah tertulis dibuku panduan orang tua untuk kegiatan di rumah/PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

Dengan adanya program tersebut, Alhamdulillah orangtuanya Mas Haidar antusias dan ingin sekali mengenalkan Mas Haidar dengan buku-buku cerita. Karena di rumah kurang begitu ada buku cerita anak-anak, akhirnya sang ibu berusaha meminjamkan buku cerita di Perpustakaan Umar Harun. Dan bersyukur sekali, di Perpustakaan tempat sekolah Mas Haidar, memfasilitasi orangtua untuk peminjaman buku.

Saat meminjam buku, orangtua tidak meminjam sendiri. Orangtua tersebut mengajak anaknya, yaitu mas Haidar untuk memilih buku sesuai kesukaannya. Alhamdulillah, setelah anak dilibatkan sendiri dalam memilih buku (sesuai kesukaan), Mas Haidar di rumah mulai tertarik dengan buku dan mau melihat gambar-gambar di buku sambil menunjuknya. Mas Haidar juga mulai suka bertanya-tanya tentang gambar yang ada dibuku sambil menyebutkannya.

Hal tersebut terbukti saat di sekolah. Saat Mas Haidar dibacakan buku cerita, buku bantal, Mas Haidar siap mendengarkan dan antusis melihat gambar-gambarnya. Seperti ceritaku di awal.

Eits, proses seperti tersebut tidak sebentar ya. Prosesnya, lumayan lama. Menurut observasiku, anak yang belum begitu tertarik dengan buku, jika dibacakan buku cerita panjang akan mudah bosan. Apalagi kalau tidak sesuai kesukaannya.

Jadi menurutku, untuk pertama kali kita mengenalkan atau membacakan buku cerita kepada anak yang belum begitu tertarik dengan buku, apalagi diusia ± 2 tahun, alangkah baiknya, dibacakan buku cerita tipis, simpel, dengan gambar yang menarik dan sesuai dengan kesukaan anak.

Alhasil, jika anak sudah mulai terbiasa mendengar dan melihat buku cerita, anak akan makin tertarik dengan buku-buku yang lainnya juga. Aku pun sebagai orang dewasa juga seperti itu. Aku akan mulai belajar suka baca buku yang sesuai genreku dan memilih buku yang tipis dulu. Cerita dan tulisannya juga cenderung lebih pendek. Hehe....

 

Salam Literasi. J

Sabtu, 24 Oktober 2020

THE POWER OF “KESEPAKATAN”


THE POWER OF “KESEPAKATAN”

Oleh : Mir’atul Af’idah - Wali Kelas 1 SD


    Sejak bulan September, sekolah kami ada jadwal tatap muka di sekolah setiap satu minggu sekali. Setiap kelas dibagi menjadi dua kelompok, untuk meminimalisir kerumunan.

    Hari itu teman-teman kelompok pertama masuk tatap muka di sekolah. Seperti biasa, mereka sangat ceria dan ekspresif. Melepas rindu belajar di sekolah dan mungkin kejenuhan terlalu lama di rumah. Kegiatan berjalan sebagaimana biasanya. Saat jam kegiatan, tiba-tiba Mbak Aida dan Mbak Aira meminta izin untuk bermain di Playground. Akhirnya kami mencoba untuk mengajak mereka ngobrol, mengajak berpikir logis dan kritis.

    "Sekarang kan waktunya kegiatan, gimana kalau bermain di playgroundnya nanti saat jam istirahat ?", jelas kami mencoba memberi pengertian.

    Mereka terlihat mencerna apa yang kami katakan. Tapi, ternyata mereka masih mencoba bernegosiasi. "Kami pengennya main sekarang, Bu", sahut mereka.

    Akhirnya kami membuat kesepakatan bersama. "Oke deh, boleh bermain di playground sekarang. Tapi kan kita masih ada kegiatan nih yang harus dilakukan, jadi solusinya bagaimana donk?", Saya mencoba mengajak mereka berpikir logis dan mencari solusi.

   "Bagaimana kalo kita mainnya 5 menit aja, Bu ? Boleh ?", mereka mencoba menawarkan solusi dan idenya. Akhirnya kami menyepakati itu.

   Mereka berlari menuju Playground dan bermain. Di tengah-tengah asyik bermain, mereka bertanya pada guru yang ditemui di dekat playground. "Bu, sekarang jam berapa ? Sudah berapa menit ?". Guru yang ditanya agak bingung.

   "Lah emang tadi bermainnya mulai jam berapa ? Sepertinya sudah 5 menit Mbak. Emang kenapa toh ?".

    Mereka mencoba menjelaskan, "Kita tadi kesepakatanya bermain 5 menit, jadi sekarang harus kembali ke kelas." Akhirnya mereka pun bergegas kembali ke kelas dengan ceria dan sudah lebih siap untuk belajar. Betapa bahagianya menjadi anak-anak ketika orang dewasa mau memahami mereka.

BELAJAR MENGELOLA EMOSI MULAI DARI DIRI SENDIRI

 


BELAJAR MENGELOLA EMOSI MULAI DARI DIRI SENDIRI

Oleh : Nadia Jirjis - Wali Murid dari Afaf (4 SD) dan Aida (1 SD)


       "Brakkk,...."

    Tiba-tiba terdengar si kakak menggebrak meja komputernya. Sepertinya dia merasa gemas menghadapi tantangan gamenya. Ini bukan pertama kali dia bersikap ekspresif seperti ini saat main game. Bahkan kadang seperti marah-marah sesaat, dan kemudian selesai. Tentu sebagai ibu, aku khawatir melihat hal ini. Sering secara spontan aku langsung meresponnya dengan bertanya pelan namun jelas terdengar nada mengingatkan "Ada apa kaaak..". Dia pun menjawab pelan dengan nada jengah seperti tidak ingin diingatkan "Iyaaaah..."

    Setelah main game, kakak masuk ke kamarku. Dari ekspresinya, sebenarnya aku tau kalau dia seperti tidak ingin membicarakannya lagi. Tapi perasaan khawatirku dan keinginanku untuk menasehatinya lebih dominan. Akhirnya, pelan kuajak dia ngobrol merefleksikan peristiwa tadi. Benar saja, dia hanya menjawab "Iyaaa.. Iyaaa..".

    Karena gemas melihat responnya dan ingin segera menyelesaikan persoalan, aku langsung bertanya "Kakak merasa nggak kalau itu salah dan ga baik?". Kakak pun menjawab "Enggak". Kaget mendengar jawabannya, aku pun kembali bertanya "Loh.. Kok bisa? Menurut kakak itu nggak masalah ya..?". Dia kembali menjawab "Enggak.. Ya itu biasa aja, aku ga marah sama siapa-siapa, mah.. Aku marah sama diri sendiri. Ya malah nggak enak kalau ga dikeluarkan emosinya, mah.. ".

    Jujur, aku kaget terhenyak mendengar jawabannya. Tapi tetap saja aku berusaha menasehatinya "Tapi mamah takut kak.. Emosi bisa dikelola dengan lebih baik, kok kak.. Nggak harus dengan marah-marah dan menggebrak meja". Kakak diam dengan raut wajah tidak setuju. Tak lama, terdengar suara adzan dari luar, kakak pun beranjak sambil bilang pelan "Iyaaaa...". Dari raut wajahnya aku tau, dia masih meyakini alasannya dan belum bisa menerima masukanku. Akupun makin khawatir dan cemas.

   Tiba-tiba Baba masuk kamar, segera kuceritakan kejadian ini. Lengkap dengan kekhawatiran dan kecemasanku. Dengan santai Baba menanggapi "Nggak apa apa.. Lama-lama dia akan belajar juga, belajar dari sekelilingnya". Aku terdiam mendengar jawaban santai Baba. Setengah mengiyakan, setengah berpikir "Sepertinya, sebaiknya aku yang memulai lebih dulu untuk belajar mengelola emosi, deh.." Yah.. Walau masih saja ada rasa khawatir, tapi setidaknya ada lebih banyak lagi harapan baik yang memenuhi hati saat ini. Semoga..






Kamis, 16 Juli 2020

Laporan Hasil Riset "SEJARAH SUNAN BEJAGUNG KIDUL -TUBAN" Tegar (8 Tahun) - Kelas 3 SD Islam Umar Harun


Laporan Hasil Riset "SEJARAH  SUNAN  BEJAGUNG KIDUL -TUBAN"

Tegar (8 Tahun) - Kelas 3 SD Islam Umar Harun

Riset di lakukan pada hari Rabu,Tanggal 6 Februari 2020 pada jam 18.00 Wib s/d 24.00 Wib. Saya melaksanakan riset ditemani oleh kedua orang tua saya. Selama melakukan perjalanan kami bertiga berdiskusi dan menyusun rencana pertanyaan yang akan saya ajukan nanti. Saya mendapat masukan yang banyak dari Ayah dan Mama tentang pertanyaan yang akan saya ajukan nanti.

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan sekitar satu setengah jam menempuh perjalanan. Tidak butuh waktu lama untuk mencari tempat tujuan,karena memang sudah dua kali ini saya berziarah ke makam Sunan Bejagung Kidul ini. Aku langsung  semangaat ketika memasuki area makam. Tanpa menunggu lama, aku langsung mencari juru kunci makam. Dan kebetulan sekali juru kunci yang dimaksud lagi berada di dekatku, lalu aku langsung menghampiri beliau dan menyampaikan maksud kedatanganku,dan beliaupun langsung mengajaku memasuki teras makam untuk mandapatkan panjelasan. Disitu saya mulai bartanya tentang sejarah Sunan Bejagung kidul. Mulai dari Asal usul, silsilah, sampai Karomah yang dimiliki oleh Sunan Bejagung Kidul. Mendengar pertanyaanku si juru kunci langsung menjawab dan menceritakan satu demi satu sejarah dengan penuh semangat.

(Dokumentasi : Proses wawancara dengan juru kunci makam)

Dimulai dari asal usul Sunan Bejagung. Sunan Bejagung adalah Putra mahkota Raja “HAYAM WURUK“ dari kerajaan Majapahit. Ketika memasuki usia dewasa Sunan Bejagung melarikan diri pergi dari rumah untuk menghindari tahta yang secara otomatis akan diterimanya sebagai Putra Mahkota, karena menghindari banyak berbuat dosa. Artinya dengan menjadi seorang pemimpin / Raja secara otomatis akan banyak melakukan kesalahan, sekecil kecilnya yaitu memerintah orang dan sebesar – besarnya menggertak orang, itu yang menurut dia akan menyebabkan banyak dosa. Utusan kerajaan sempat mencari keberadaan Sunan Bejagung dan mengajaknya pulang tapi Sunan Bejagung tidak bersedia. Setelah utusan raja kembali ke Kerajaan dengan tanpa mengajak Sunan Bejagung, Raja akhirnya memerintah utusan untuk kembali menjemput Sunan Bejagung, bahkan secara paksa. Karena sudah beberapa kali utusan Raja datang, membuat para santri Sunan Bejagung menjadi khawatir, dan segera melapor ke Sunan Bejagung ketika melihat utusan Raja bersama pasukan gajahnya datang lagi. Namun dengan tenang Sunan Bejagung menjawab laporan Santri dan Bilang “ Tidak ada pasukan gajah yang datang, tapi yang ada adalah batu “ maka seketika itu pasukan gajah utusan kerajaan berubah menjadi batu. Dan sampai sekarang di kenal dengan sebutan “BATU GAJAH “ Dan untuk menghindari pasukan gajah yang lain maka Sunan Bejagung membuat SITI GARIT untuk mencegah masuknya pasukan Gajah ke area tempat pertapaan. SITI GARIT berasal dari kata siti yaitu tanah dan garit adalah garis, jadi SITI GARIT bisa diartikan tanah yang diberi garis batas. 

(Dokumentasi : Ziarah ke Makam Sunan Bejagung Kidul setelah wawancara)

Sunan Bejagung Kidul adalah menantu dari Sunan Bejagung Lor. Dahulu Sunan Bejagung Kidul tinggal bersama mertuanya .namun akhirnya padepokan dipasrahkan kepada Sunan Bejagung Kidul , dan sang Mertua pindah ke utara, maka dari itu sampai sekarang dikenal dengan Sunan Bejagung Lor. Dalam kepindahan Sunan Bejagung Lor tanpa ada seorangpun yang tahu. Sunan Bejagung Lor pindah secara diam – diam, dan dilakukan dimalam hari dan tanpa bantuan siapapun. Namun dengan karomah yang dimiliki oleh Sunan Bejagung Lor maka dalam semalam semua sudah berpindah tempat termasuk juga Masjid yang biasa digunakan untuk mengajar para santri, berpindah mengikuti Sunan Bejagung Lor. Dan esok paginya para santri mendapati masjid tinggal pondasinya saja, karena bangunannya sudah berpindah tempat di Lor atau utara, dan Sampai sekarang peninggalan itu masih terawat dengan baik, bahkan sudah di jadikan Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Tuban.

Demikian cerita singkat sejarah Sunan Bejagung Kidul.

Jumat, 26 Juni 2020

Laporan Riset "TANAMAN OBAT" - Afaf Kelas 3 SD Islam Umar Harun



Laporan Riset "TANAMAN OBAT"
Afaf (8 Tahun) -  Kelas 3 SD Islam Umar Harun

Hai, namaku Afaf. Aku siswi kelas 3 SD Islam Umar Harun. Pada semester 2 ini aku meneliti tentang tanaman obat. Kenapa aku memilih riset tanaman obat? Karena aku pernah mendengar cerita dari Bu Fatim tentang tanaman obat. Menurut cerita Bu Fatim, dulu Bu Fatim pernah sakit gatal di tangan, lalu Bu Fatim menggosokan dedaunan di bagian yang sakit gatal sampai mengeluarkan getah. Sayangnya aku tidak tahu nama daunnya.

Aku juga pernah melihat video pendek berjudul “5 Minute Crafts”. Dalam video itu ada anak kecil sedang sakit panas, kemudian orang tuanya menempelkan potongan bawang merah di kening. Aku juga mendapatkan cerita dari mamaku, saat Kak Nabil dan Dek Aida masih kecil pernah sakit panas, lalu mama memberikan bawang yang sudah ditumbuk di ubun-ubunnya. Alhamdulillah panasnya mereda.

Jadi aku penasaran, apakah betul ada tanaman yang bisa menjadi obat? Namanya apa saja? Obat untuk sakit apa? Cara mengobatinya bagaimana? Oh ya, target risetku sampai bisa mengobati mbak-mbak pondok yang sakit. Kalau risetku sudah selesai, aku akan menulis laporan agar orang lain juga mendapatkan ilmu tentang tanaman obat dari laporan riset ku.

(Dokumentasi : Proses mencari data pasien)

Di rumah, aku sudah punya tanaman obat, yaitu lidah buaya dan belimbing. Tapi aku juga ingin punya tanaman obat yang lain, sedangkan saat itu aku tidak tahu nama tanaman obat lainnya, tidak tahu obat buat sakit apa, dan bagaimana cara mengobatinya. Jadi aku mencari tahu lewat google, berkunjung ke penjual tanaman, dan membaca buku tentang tanaman obat.  Saat aku berkunjung ke toko tanaman, ternyata tidak ada tanaman obat, padahal aku sudah menyusun pertanyaan tentang tanaman obat. Aku di sana tidak sendirian lho, tetapi bersama Mamah, Pak Imam, dan Kang Izza.

(Dokumentasi : Proses mencari tanaman obat)

Akhirnya aku pergi ke perpustakaannya Pak Umam untuk mencari buku tentang tanaman obat, ternyata tidak ada buku yang sesuai dengan kebutuhanku. Untungnya di depan rumah Pak Umam ada tanaman obat, namanya yodium. Menurut cerita dari ibunya Pak Umam, manfaat tanaman yodium itu untuk menyembuhkan luka luar. Ibunya Pak Umam juga  bercerita bahwa ada tanaman obat lainnya, namanya binahong, untuk mengobati luka dalam. Aku juga dikasih tanaman binahong dan yodiom.

(Dokumentasi : Wawancara saat mencari data)

Sepulang dari rumah pak Umam aku menanam tanaman binahong dan tanaman yodiom bersama Pak Imam. Setelah itu mamah membelikan 2 buku tentang tanaman obat. Aku senang sudah dibelikan buku tentang tanaman obat, karena didalamnya ada informasi tentang kegunaan tanaman obat dan cara membuat obatnya. Tapi aku tidak membaca semua isi buku tersebut. Aku hanya membaca tentang tomat, jahe, bawang merah, bawang putih, dan belimbing wuluh. Bawang merah untuk mengobati demam dan sakit perut pada anak kecil. Tomat untuk mengobati jerawat, sama seperti belimbing wuluh. Sebenarnya masih ada yang lain tapi seingatku itu saja. Setelah aku mengetahui, aku praktik mengobati mbak mbak pondok yang sakit. Sebelumnya aku mendata mbak mbak yang sakit. Berikut datanya :
1. Mbak Lina (Aula Ummu Salamah 2) sakit batuk
2. Mbak Wahyu (Aula Ummu Salamah 3) sakit jerawat
3. Mbak Muyas (Aula Ummu Salamah 3) sakit jerawat
4. Mbak Samsiah (Aula Ummu Salamah 4) sakit maag
5. Mbak Erviana (Aula Ummu Salamah 5) sakit jerawat
6. Mbak Nuzul (Aula Ummu Salamah 6) sakit jerawat
7. Mbak Azizah (Aula Ummu Salamah 6) sakit gatal kutu air

Obat mbak-mbak yang sakit jerawat itu tomat dan obat mbak-mbak yang sakit batuk itu jahe, tapi yang sakit gatal kutu air dan sakit maag itu tidak ada tanaman obatnya di rumah, jadi aku hanya mengobati mbak-mbak yang sakit batuk dan sakit jerawat saja. Kata mbak-mbak yang sakit jerawat, saat di kasih tomat rasanya perih dan saat dibilas dengan air rasanya segar. Sedangkan kata mbak mbak yang sakit batuk, saat dikasih minuman jahe rasanya lebih enak dari pada sebelumnya. Aku ngasih tomatnya 3 kali, dan jahenya 1 kali. Jadi sakitnya belum sembuh total, tapi sudah lebih baik dari pada sebelumnya .


(Dokumentasi : Proses membuat obat dan praktik mengobati)

Sekarang aku sudah tahu nama tanaman obat, obat untuk sakit apa, dan bagaimana cara mengobatinya. Aku juga bisa menyusun kalimat efektif saat membuat pertanyaan. Ternyata tanaman itu bukan hanya tanaman hias saja, tapi juga ada tanaman obat.

Selasa, 12 November 2019

BELAJAR MERDEKA UNTUK MERDEKA BELAJAR



BELAJAR MERDEKA UNTUK MERDEKA BELAJAR
Story by : Guru Joko Supriyanto*

            Apa jadinya saat guru sudah merancang kegiatan, namun anak memilih untuk melakukan kegiatan lain? Apa yang harus dilakukan oleh guru?
10 November 2019. Pada tanggal itu bertepatan dengan hari Minggu dan peringatan hari pahlawan, dimana itu adalah jadwal saya untuk mengisi kelas ekstra. Ekstra silat tepatnya, karena itu yang diamanahkan untuk menjadi tanggungjawab saya. Sebagaimana biasanya, jauh-jauh hari saya sudah merancang kegiatan bersama tim guru ekstra silat lainnya dan kami sepakat untuk melanjutkan program latihan sesuai dengan LP yang dibuat, yaitu latihan kekuatan otot kaki dan seni dasar bermain tongkat. Untuk tempat pelaksanaannya seperti biasa, kami melakukan disudut lapangan yang cukup teduh untuk latihan bersama anak-anak.
Kini saatnya tiba. Setengah jam sebelum kegiatan dimulai, kami menemui pendamping anak di masing-masing kelas untuk menanyakan kesiapan anak mengikuti kelas ekstra. Sedikit gambaran, kelas ektra kami ini diikuti anak-anak dari lintas jenjang, dari kelas TK A – kelas 3 SD, semua berlatih bersama dalam satu tempat.
Setelah melakukan koordinasi dengan masing-masing pendamping kelas, di luar dugaan kami mendapat informasi bahwa mayoritas anak menginginkan berlatih di tempat lain (tidak di lapangan) dengan berbagai alasan yang mereka ungkapkan, salah satunya karena tempat lapangan lumayan jauh dan sebagian juga bosan karena sudah sering latihan di sana.
“waduhhh,… gawattt,… kacau semua deh rencananya”. Sepintas kata ini yang muncul dibenak saya. Namun bagaimanapun juga kelas ekstra harus berlanjut, kami segera berembuk untuk mencari solusi. Kami melakukan survei di beberapa tempat yang dekat dengan sekolah. Hingga akhirnya kami menemukan tempat yang menurut kami cocok untuk berkegiatan, semoga saja tempat ini juga cocok menurut anak. Tempat tersebut berada di dekat pantai yang cukup teduh karena banyak pohon cemara di sana, berada di belakang kantor PKK dan lebih dekat dibanding tempat latihan sebelumnya.
Anak-anak sudah berkumpul di depan gerbang sekolah dengan ditemani guru pendamping dari masing-masing kelas. Kami menceritakan tentang lokasi yang kami temukan. Alangkah bahagianya, mereka bersorak riang gembira dan tampak lebih semangat dari sebelumnya. Kami mulai berjalan beriringan dengan formasi anak SD mengandeng anak PAUD untuk menumbuhkan sikap saling menjaga dan menghormati, mengingat juga rute perjalanan kami akan ada sesi penyebrangan jalan.



Setelah sampai di lokasi, kami memberikan kesempatan anak untuk bermain-main sekedarnya. Ada yang bermain pasir, mengumpulkan dedaunan, melihat laut lebih dekat, dan ada juga yang memilih duduk santai di bawah pohon. Kami senang melihat ekspresi anak yang senang dan ceria, kami mengamati kegiatan mereka sembari megawasi dari kejauhan. Setelah dirasa cukup, kami mengumpulkan anak-anak di satu titik untuk memulai kegiatan.
Kami berembuk kembali dengan tim guru tentang kegiatan apa yang akan diberikan ke anak. Kami teringat dengan salah satu slogan dari SALAM (Sanggar Anak Alam) bahwa Anak adalah Mahaguru bagi dirinya dan sumber belajar bagi temannya. Kami setuju dengan slogan tersebut, dan berbekal pengetahuan tentang siklus merdeka belajar, kami sepakat untuk membuat kegiatan yang semua berasal dari anak, untuk anak, dan tentunya sesuai dengan perkembangan anak. Terserah anak mau berkegiatan apa saja, kami sebagai guru akan berperan sebagai fasilitator bagi anak.



Praktik siklus pertama : Komitmen pada tujuan. Pada awalnya kami meminta untuk bersama-sama melihat ke arah laut dan memfokuskan ke satu objek atau benda. Selang beberapa saat, kami bertanya ke masing-masing anak hingga akhirnya mereka menyadari bahwa dalam satu arah yang sama, ternyata bisa memunculkan banyak pandangan yang berbeda. Saat ditanya apa yang dilihat, anak menjawab ada yang melihat batu, ombak, pasir, laut, kapal, benteng runtuh, dan lain sebagainya. Dari jawaban inilah kami mencoba untuk menanamkan ke anak bahwa setiap orang itu berbeda, baik sudut pandang maupun kemampuan yang dimilikinya.
Oleh karena itu dalam kehidupan kita akan selalu membutuhkan orang lain dan dari hal itulah kita seharusnya saling menjaga dan saling menyayangi antar teman. Nah, masuk deh, point inti dari makna silat yang bukan sekedar berantem, tapi lebih untuk menjaga diri maupun orang lain.

Di bagian ini kami juga ingin menekanlan lagi bahwa untuk latihan silat itu tidak melulu dengan cara yang keras, namun bisa juga dengan cara bermain yang menyenangkan. Namun saat itu kurang efektif karena anak berkumpul dalam kelompok besar, anak-anak jadi kurang paham dengan apa yang kami sampaikan. Menyadari hal ini, kami langsung membagi anak dalam kelompok kecil. Kebetulan saat itu ada tiga teman guru yang ikut mendampingi ekstra silat. Akhirnya kami membagi anak dalam tiga kelompok kecil hingga masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 anak, sedangkan saya sendiri berperan sebagai pemandu acara. Kami bekerjasama dengan guru pendamping di masing-masing kelompok untuk menyampaikan maksud dari apa yang saya sampaikan di awal serta memberi penguatan ke anak bahwa inti dari latihan fisik dalam ekstra silat itu bisa dilakukan dengan media apapun, tidak bergantung pada satu media saja, misal matras, barbel, samsak sebagaimana yang sering kita pakai dalam latihan.



Praktik siklus kedua : Mandiri menentukan cara. Setelah semua informasi dan penguatan disampaikan ke anak, kami mulai memberikan misi. Kami memberikan kebebasan kepada anak untuk mencari benda apapun disekitar tempat latihan untuk kemudian dibuat menjadi media yang bisa digunakan untuk latihan bersama dengan teman-teman lainnya. Mereka mulai bergerak melakukan misinya dengan ditemani satu guru sebagai fasilitatornya. Tak disangka ternyata anak-anak bisa menemukan media diluar perkiraan kami. Kelompok pertama menemukan beberapa botol dan sandal bekas. Botol tersebut diisi pasir hingga penuh dan ditaruh berjajar. Sedangkan sandal bekasnya digunakan untuk melempar dari kejauhan. Ketika saya tanya alasannya kenapa hal itu bisa dijadikan media latihan, mereka menjawab : “iya, kami membuat media untuk latihan kefokusan, karena dalam silat juga dibutuhkan kefokusan pada sasaran, saat memukul atau menendang.” Kiranya keterangan inilah yang muncul dalam pembahasan kelompok mereka.





Tidak cukup sampai disitu, tim kelompok satu juga menambahkan tantangan berjalan jongkok dengan jarak yang dekat untuk bisa melatih otot dan kekuatan kaki. Dalam praktiknya anak akan diminta berjalan jongkok mengambil sandal bekas yang disediakan untuk kemudian bisa digunakan untuk melempar botol berisi pasir yang sudah disiapkan. Untuk memahamkan kelompok lain terkait peraturan permainan ini, akan ada perwakilan satu anak dari kelompok satu yang akan menjelaskan dengan didampingi fasilitator dalam kelompok dan hal demikian akan dilakukan oleh kelompok yang lain juga.




Kelompok dua rupanya tak mau kalah. Mereka menemukan dahan kayu yang menghubungkan antara 2 pohon hingga bisa digunakan untuk bergelantungan dan latihan meniti untuk keseimbangan. Tak lupa fasilitator juga turut mencoba media tersebut. Tujuannya agar anak mendapat contoh yang jelas dan lebih mudah untuk dipahami. Untuk anak-anak yang sudah berani, mereka terlihat semangat untuk mencoba bahkan hingga berkali-kali. Untuk yang belum berani, kami akan membantu anak dengan memegangi tangannya saat meniti. Tak apa, meski beberapa anak terlihat ragu, akhirnya mereka berani mencoba dan itu menunjukkan bahwa anak sudah mampu mengalahkan rasa takutnya. Terlihat juga dalam latihan ini, anak-anak saling membantu agar teman lain yang mencoba tidak terjatuh dari media.




Untuk kelompok tiga, mereka menemukan ranting kayu panjang dan potongan kayu besar. Mereka menjadikan benda tersebut sebagai media untuk melatih keseimbangan juga, namun bedanya dalam meniti kayu besar tersebut anak akan membawa ranting panjang untuk membantu menjaga keseimbangan, layaknya aksi yang biasa dipentaskan oleh pemain akrobat. Setelah berhasil meniti kayu hingga ujung, tongkat boleh diletakkan dan anak akan melakukan aksi roll depan sebagaimana praktik materi yang diajarkan di dua minggu sebelumnya.









Begitulah tiga media yang diciptakan anak-anak. Kami membuat kesepakatan untuk bergantian dalam memainkan tiga media tersebut hingga semua anak bisa mencoba ketiganya. Kami melihat anak-anak begitu semangat dan antusias dalam mencoba semua media yang diciptakannya. Mungkin inilah arti merdeka belajar bagi mereka. Bisa belajar dengan media apapun yang diciptakan dan sesuai dengan keinginannya.

Begitu menyenangkan kegiatan hari ini. hingga tidak terasa waktu kelas ekstra di hari itu sudah selesai, kami mengakhiri sesi latihan dengan foto bersama dan menyorakkan slogan baru yang tiba-tiba terbentuk saat itu. Slogan kami saat itu adalah : “Ekstra Silat,….. Sehat, Kuat, Semangat”. Begitulah ceritaku bersama anak-anak saat kelas ekstra. Saya tersenyum lepas saat menuliskan cerita ini, membayangkan anak-anak dengan tingkah lucunya saat merayu saya untuk melakukan hal serupa di latihan berikutnya. Saya sebagai guru, tentunya mengangguk dan dengan senyum semangat meng-iyakan permintaan mereka.


Praktik siklus ketiga : refleksi untuk perbaikan. Setelah kembali dari tempat latihan, sepulang sekolah kami mencoba merefleksikan kegiatan, dan kiranya memang masih ada ketidak tepatan yang kami lakukan dan harus diperbaiki. Ketidak tepatan itu adalah pada saat anak-anak selesai mencoba semua media sedangkan ada teman lain yang belum selesai. Kami lupa untuk memberikan intruksi selanjutnya kepada mereka, dan akhirnya beberapa dari mereka ada yang bermain air di tepi pantai, berjalan jauh mencari kerang, dan lain sebagainya. Melihat hal itu kami langsung mengingatkan anak untuk tidak bermain jauh dari lokasi latihan dan tetap dalam pengawasan guru. Kami memberikan kesempatan kepada anak utuk bermain sekedarnya dan tidak berlebihan serta dengan batasan waktu yang telah kami sepakati.
Itulah refleksiku pada kegiatan ini, dan akan saya perbaiki untuk kegiatan berikutnya serta mempraktikkan kembali siklus merdeka belajar dari awal. Hal itu akan terus terjadi. Karena dalam sebuah siklus memang tidak ada titik akhir, akan terus berkelanjutan. Saat tiba waktu untuk merefleksikan, pasti akan tetap kita temukan beberapa kesalahan, dan justru dari kesalahan itulah kita akan bisa melakukan perbaikan untuk masa depan.

Jumat, 08 Februari 2019

Sekolah Inklusi, Dorong ABK Tak Minder Bersosialisasi - Blog Sekolah Islam Umar Harun

Sekolah Inklusi, Dorong ABK Tak Minder Bersosialisasi

Salatiga – Isu strategis tentang arti penting pendidikan inklusi mengemuka pada Rapat Kerja Perencanaan Pembangunan Kesejahteraan Sosial Tahun 2019 di Laras Asri Hotel, Kamis (7/2/2019). Implementasi pendidikan inklusi dinilai mampu membangkitkan rasa percaya diri anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), sekaligus menanamkan jiwa sosial yang tinggi pada diri anak pada umumnya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen yang membuka rapat kerja tersebut mencontohkan, di Kabupaten Rembang sebenarnya sudah beroperasi sekolah luar biasa (SLB). Namun karena jumlah ABK cukup banyak, tidak semua dapat belajar di sana. Pria yang akrab disapa Gus Yasin ini pun mengapresiasi institusi pendidikan swasta yang telah menerapkan pendidikan inklusi, karena langkah itu menjawab asa ABK untuk dapat mengakses pendidikan, sekaligus mendorong mereka untuk tidak minder bersosialisasi di tengah masyarakat.

"Kami berterima kasih kepada institusi pendidikan swasta saat ini yang telah dan terus menjalankan pendidikan inklusi. Saya senang karena tidak ada perbedaan penanganan kepada anak didik yang berkebutuhan khusus dengan anak yang normal. (Sekolah inklusi) ini menumbuhkan kepercayaan diri kepada ABK supaya bisa berbaur dan berkreasi di tengah-tengah masyarakat," ujarnya.

Gus Yasin berharap Provinsi Jawa Tengah menjadi pionir dalam pengembangan pendidikan inklusi, mengingat pendidikan tersebut sangat penting untuk menumbuhkan jiwa sosial sejak dini. Anak yang mampu berempati, tidak akan bertindak semena-mena kepada orang lain di sekitarnya.

Dia juga menyoroti era digital dan revolusi industri 4.0 saat ini, yang berimbas pada banyaknya persebaran berita hoaks. Empati pun mulai luntur. Kalau hal itu tidak dibentengi dengan jiwa sosial yang tinggi, ke depan fitnah akan semakin banyak, saling menjatuhkan. Pemerintah juga mempunyai tanggung jawab agar lingkungannya kondusif.

"Saya ingin Jawa Tengah yang menjadi pionir tumbuhnya pendidikan inklusi. Kami ingin mendorong bahwa Jawa Tengah peduli dan tidak membeda-bedakan antara anak yang berkebutuhan khusus dan anak-anak yang normal," tegasnya.

Mantan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah itu mencontohkan, di Kecamatan Sarang, Rembang, terdapat Sekolah Islam Umar Harun yang mengimplementasikan pendidikan inklusi. Selain itu, ada pula sekolah inklusi berbasis pesantren di Bangsri, Rembang, serta SMKN 8 Surakarta yang mengembangkan program studi pendidikan seni.

Gus Yasin mengisahkan, anak keduanya yang bersekolah di sekolah inklusi. Dia bersyukur karena sang anak tumbuh menjadi sosok yang peduli kepada teman sebayanya yang berkebutuhan khusus, karena para guru memberikan teladan bagaimana berempati terhadap lingkungan.

"Anak saya kedua juga bersekolah di situ. Jiwa sosialnya alhamdulillah muncul. Ketika ada teman berkebutuhan khusus yang ingin memakai sepatu dan kesulitan, dia membantu," bebernya sembari tersenyum.

Wagub mengakui, untuk mengembangkan pendidikan inklusi yang berkualitas bukan perkara mudah. Pasalnya, diperlukan jumlah guru berkompeten yang memadai dan siap menjadi pendamping ABK.

"Ini memerlukan pemikiran yang panjang dan persiapan yang matang. Kita tahu ABK memerlukan pendamping, dan kita melihat di sekolah-sekolah belum banyak tenaga untuk mendampingi ABK. Untuk itu, kita memerlukan koordinasi antara dinas sosial yang selama ini telah mendampingi ABK dan dinas pendidikan yang kewenangannya terkait SLB," lanjutnya.

Pada Rapat Kerja Perencanaan Pembangunan Kesejahteraan Sosial Tahun 2019, Gus Yasin juga menyampaikan tentang pentingnya pemutakhiran Basis Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin (BDT-PPFM). Pemutakhiran data tersebut hendaknya terealisasi pada akhir bulan Februari 2019 sebagai bahan masukan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (musrenbang) serta dasar intervensi penanganan fakir miskin di Jawa Tengah.

"Raker ini saya minta dioptimalkan untuk mencapai kesepakatan konstruktif dalam rangka percepatan pengurangan kemiskinan. Salah satunya, terkait pengolahan BDT kemiskinan oleh kabupaten/ kota guna pengelolaan BDT kemiskinan oleh pemerintah provinsi. Dayagunakan pula kegiatan ini untuk mendorong percepatan pembangunan rumah singgah/ shelter di setiap kabupaten/ kota," pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub juga mengukuhkan Pengurus Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Provinsi Jawa Tengah 2018-2023, serta Pengurus Forum Koordinasi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Provinsi Jateng 2018-2023.

"Saya mengucapkan selamat. Itu tugas sosial, tetapi hendaknya tetap profesional dalam pelaksanaannya. Tur, ikhlas lillahi taala. Insya Allah barokah dunia akhirat," pungkasnya.